Selamat

Rabu, 22 September 2021

16 Agustus 2021|19:59 WIB

Jeli Manfaatkan Peluang Dari Olahraga

Berawal dari reseller, kini pengusaha muda ini bisa menghasilkan Rp60 juta sebulannya.

Penulis: Rheza Alfian,

Editor: Fin Harini

ImageKaos Olahraga Lari Basic Raramuri. raramuri/dok

JAKARTA – Belum lama ini fenomena masyarakat giat berolahraga bisa dibilang meningkat. Kesadaran akan kesehatan menjadi alasan utama masyarakat melakukan olahraga.

Berbagai macam jenis olahraga pun cukup digandrungi masyarakat Indonesia. Mulai dari berlari, bersepeda, hingga permainan, seperti sepak bola, dan bulu tangkis rutin dilakukan.

Olahraga yang sebelumnya hanya ditujukan untuk menjaga kesehatan, lama-kelamaan telah menjadi gaya hidup. Segala keperluan berolahraga, mulai dari kostum hingga aksesoris pendukung pun diburu para pencari keringat.

Namun, beberapa apparel olahraga, seperti Nike dan Adidas diketahui memiliki harga yang cukup menguras kantong. Sekalipun ada apparel lokal yang murah, kualitas produk belum bisa diadu secara seimbang.

Hype meningkatnya olahraga sekaligus berburu apparel, membuka peluang usaha. Adalah Muhammad Fachrureza (23 tahun) yang turut memanfaatkannya. Pria asal Pamulang, Tangerang Selatan ini berinisiatif membuat kostum lari yang berkualitas, namun dengan harga yang terjangkau.

Ketertarikannya untuk membuat apparel olahraga berawal dari hobinya berlari. Circa 2016, Reza -sapaan akrabnya- rutin berlari untuk sekadar mencari keringat dan menyalurkan hobi.

“Ketertarikan saya untuk bisnis olahraga ini sih dari hobi lari ya. Terus saya merasa enggak ada beban, kalau enggak laku pun saya bisa masih pakai sendiri atau saya kasih ke tetangga ke saudara produknya,” ceritanya kepada Validnews di Jakarta, Jumat (13/8).

Berawal dari Reseller
Jiwa berbisnis Reza telah muncul sejak 2016, yaitu pada saat zaman sekolah menengah atas (SMA). Saat itu, ia sudah mulai berjualan jersey yang diperolehnya dari seorang pedagang. Dari situ, jersey ia jual kembali melalui Facebook, hingga Blackberry Messenger (BBM).

Pada saat yang sama, hobi berlarinya tidak lagi bisa dibendung. Melengkapi aktivitasnya, ia rutin membeli keperluan untuk lari seperti baju hingga celana. Hingga akhirnya, ia menemukan penjual baju dan celana lari lokal asal Bandung, Jawa Barat, yang pas di hati dan sakunya.

Merasa cocok, Reza memberanikan diri untuk menjadi reseller baju dan celana tersebut di area Jakarta. Dia juga rajin berkelana ke mencari grup-grup Facebook komunitas lari untuk memasarkan barang dagangannya.

Tidak lupa, marketplace, seperti Bukalapak dan Tokopedia pun dimanfaatkannya untuk memperlebar jangkauan penjualan produk. “Di Bukalapak ternyata antusiasnya tinggi juga terutama dari Facebook. Grup-grup Facebook lari itu ramai juga,” ujarnya.

Dagangan cukup laris. Sayangnya, keuntungan yang dipungut Reza terbilang sangat kecil. Ia hanya mengambil Rp5 ribu per dari setiap baju atau celana yang ia jual. “Cuma nutup buat beli pulsa saja saat itu,” imbuhnya.

Waktu berlalu. Permintaan terus meningkat. Di titik ini, pemasok barang ternyata tidak cukup kuat untuk meladeni kapasitas penjualan yang dilakukan Reza. Acapkali, barang yang dipesan oleh Reza tidak dapat dipenuhi oleh sang pemasok.

Hal tersebut membuat rating toko online Reza sempat turun karena tidak bisa memenuhi permintaan pesanan yang datang. Pernah suatu ketika, Reza harus membatalkan pesanan dari pembeli karena stok kosong. Kalaupun ada stok, ukurannya tidak sesuai dengan pesanan.

Akhirnya, kerja sama dengan pemasok dari Bandung hanya berlangsung selama dua tahun. Sebab, ia menilai pemasok sudah tidak dapat lagi memenuhi permintaannya.

“Setelah dua tahun megang produk Bandung itu, saya berhenti karena manajemen produk yang buruk menjadikan perputaran barang tidak berjalan, pembelinya banyak produknya sedikit,” katanya bercerita.

Dari situ, ia mengaku mendapat pelajaran penting. Yakni, tentang kesiapan untuk membuka usaha seperti bagaimana manajemen stok barang hingga pemasaran produk yang baik dan benar.

Dua tahun berjualan membuat Reza tahu seluk beluk jual-beli baju dan celana olahraga. Kemudian, dia berpikiran untuk membuat merek sendiri untuk baju dan celana lari. Namun, kendala permodalan akhirnya tiba menemuinya. Mimpinya mempunyai merek sendiri sempat tertunda.

Berkat Asian Games
Asian Games 2018 di Jakarta mempunyai cerita tersendiri untuk Reza. Saat itu, ia berhasil lolos sebagai volunteer untuk kegiatan olahraga terbesar se- Asia tersebut.

Uang yang didapat selama sebulan menjadi volunteer pun tak disia-siakannya. Upah sebesar Rp5 juta dialokasikan untuk modal awal membeli kain dan membayar jasa konveksi. Dari situlah, petualangan membuat baju dan celana lari dengan merek sendiri dimulai.

Saat itu, Reza bolak-balik Pasar Tanah Abang untuk mencari kain yang sesuai dengan keinginannya. Bahan pun didapati. Kemudian tempat konveksi pun juga sudah dapat.

Perjalanan bisnis memang tidak semulus motivasi para pebisnis senior. Ada saja kendala yang dihadapi. Kali ini, Reza menghadapi kendala di tempat konveksi.

Konveksi pertama kali yang ia pilih dimiliki oleh salah satu saudaranya. Namun, hasil jahitan tak sesuai dengan standar. Tidak sedikit barang yang tak bisa dijual, hingga berakhir dibagikan gratis ke tetangga ataupun teman sebaya.

“Di awal-awal juga gitu reject-nya ada 200 pcs karena jahitannya. Tapi, uang masih bisa sedikit tetap masih berputar. Tapi, kebanyakan produksi awal dibagikan ke tetangga karena enggak bisa dijual,” ucapnya.

Sempat beberapa kali berganti tempat konveksi, kemudian September 2020 Reza memutuskan untuk membuat konveksi sendiri. Kebutuhan membuat celana dan baju lari pun dibeli.

Tak lupa, seorang penjahit direkrutnya untuk membantu persoalan produksi. Tabungan sebesar Rp15 hingga Rp20 jutaan harus dikeluarkan Reza untuk membeli semua kebutuhan tersebut.

Strategi pemasaran juga tidak berubah. Reza masih mengandalkan grup-grup Facebook olahraga karena pangsa pasar yang sudah jelas. Lalu, ketika ada pembeli, ia mengarahkan pembeli ke marketplace agar bertransaksi di sana. Ia juga tidak segan-segan untuk membayar iklan di marketplace agar tokonya muncul di halaman pertama aplikasi.

Dari berbagai promosi ini, buah manis didapat. Dia memperoleh 800 hingga 1.000 pesanan dalam kurun waktu 2 tahun.

Usung Nama Suku Pelari
Periode 2018 hingga 2020 bisa dibilang menjadi fase trial dan error dalam perjalanan bisnis Reza, sebelum benar-benar akhirnya stabil dalam produksi maupun penjualan.

Sejak 2018, dia mengusung nama Raramuri, yaitu sebutan untuk suku Tarahumara, penduduk asli Amerika yang tinggal di Chihuahua. Sejak lama suku ini dikenal dengan ketahanan tubuh dan kemampuan lari jarak jauhnya yang menakjubkan. Konon, mereka bisa berlari 300 kilometer hanya dalam waktu dua hari.

Nama Tarahumara disematkan oleh orang Spanyol yang tiba di Meksiko pada abad ke-16. Mereka menyebut diri Raramuri, yang secara harfiah berarti "mereka yang berlari cepat”. Saat itu, tidak ada transportasi menjadi alasan suku Tarahumara terpaksa berlari untuk bepergian.

“Penamaan dapat dari teman. Tidak ada harapan tertentu sih. Cuma kisah-kisah suku tersebut kayak membawa semangat tersendiri saja,” kata Reza.

Reza mengaku produk yang dibuatnya saat ini memiliki sejumlah perbedaan. Di antaranya desain yang unik dan harga yang tidak terlalu tinggi. Ia bilang, harga yang tidak terlalu tinggi pun memiliki kualitas yang baik.

Ia mengaku, target pasar dari produknya berkisar dari umur 18 hingga 30 tahun. “Dan terutama orang-orang yang mau masuk TNI, Polri, biasanya banyak yang beli. Biasanya yang beli memang benar-benar hobi lari,” imbuhnya.

Jenis pemasaran pun masih sama, yakni memanfaatkan marketplaceEvent bulanan di marketplace juga tidak lupa untuk diikuti. Menurutnya, agenda itu sangat membantu untuk meningkatkan penjualan. “Karena, event bisa mendorong produk kita di halaman pertama terus,” ujarnya.

Saat ini, Raramuri juga telah memiliki empat orang karyawan. Tiga orang untuk menjahit dan satu orang untuk finishing. Produk yang dijual pun berkisar Rp65 hingga Rp75 ribu per potong. Saat ini pun Reza berhasil meraup omzet Rp50 hingga Rp60 juta per bulan.

Untuk para wirausaha muda, ia berpesan untuk membuka usaha sesuai hobi yang dimiliki.

“Kalau masih muda, melakukan banyak hal saja. Jangan takut salah. Mulai dari hobi saja, mulai dari kesenangan. Kalau usaha dimulai dari hobi pasti tidak ada beban,” katanya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA