Selamat

Rabu, 22 September 2021

03 September 2021|21:00 WIB

Jati Diri Jadi Kunci

Dengan memiliki ciri khas tersendiri, bisnis furnitur tetap menjanjikan di tengah persaingan yang sangat padat

Penulis: Yoseph Krishna,

Editor: Dian Hapsari

ImageIlustrasi meja kerja buatan pengrajin lokal. Dok Decorunic

JEPARA – Produk olahan kayu seperti mebel dan furniture asal Jepara, Jawa Tengah sudah tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. Sudah sekian lama, Bumi Kartini ini santer hingga ke mancanegara dengan ukiran kayunya.

Budaya ukiran kayu yang sudah terlihat sejak Ratu Kalinyamat (1521–1546) memerintah daerah tersebut, terus berkembang sampai saat ini. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jepara, hingga tahun 2018 setidaknya terdapat 4.265 unit sentra industri kecil di Kabupaten Jepara yang bergerak di bidang pengolahan kayu. Meliputi 3.945 unit di sektor mebel dan 320 sisanya di sektor kerajinan kayu.

Mendominasi sekitar 54% dari total industri di wilayah tersebut, industri pengolahan kayu di Kabupaten Jepara, jelas jauh mengungguli sektor-sektor lainnya. Sisa 46% lainnya tersebar merata di berbagai bidang, mulai dari konveksi, kerajinan rotan, tenun, batik, makanan, rokok, hingga genteng dan gerabah.

Data BPS Kabupaten Jepara juga menunjukkan sentra-sentra industri kecil di sektor mebel di wilayah itu tersebar di 9 kecamatan. Sementara untuk bidang kerajinan kayu, ada di 7 Kecamatan dari total 16 kecamatan di Kabupaten Jepara.

Menjamurnya pelaku industri mebel maupun kerajinan kayu di Kabupaten Jepara, acap kali membuat pendatang baru ciut nyali. Persaingan yang ketat, ditambah keunggulan yang kerap dipamerkan pelaku bisnis ukiran, membuat banyak orang berpikir berkali-kali untuk mengadu peruntungan di bisnis tersebut.

Namun, tidak dengan Wahyu Amiruddin. Pada 2016 silam, Wahyu bersama seorang rekannya memutuskan untuk bekerja sama menjalankan bisnis mebel dan kerajinan kayu.

Ia berperan di bagian manajemen keuangan, sedangkan Fuad, rekannya, berperan menggarap desain dan mengeksekusi produk mebel, seperti lemari, meja, dan lain-lain dengan ukuran yang besar. Wahyu menerapkan sistem pre-order atau pembayaran down payment (DP) sebelum proyek digarap. Namun, seiring waktu, Wahyu merasa sistem ini kurang efektif.

“Furnitur yang besar-besar itu, kendalanya ada pada pembayaran PO. Jadi, setiap dapat dana masuk, kami kerjakan, lalu kami update progresnya kepada customer. Di situ agak menjadi kendala karena kami merasa ribet harus laporan terus," ujarnya saat dihubungi Validnews, Rabu (25/8).

Kendala tak hanya sampai disitu. Minimnya modal juga menghambat Wahyu Amiruddin untuk memutar bisnis mebelnya saat itu. Ia baru bisa menggarap pesanan, setelah dana masuk dari customer untuk membeli bahan baku dan kebutuhan operasional produksi lainnya.

Atas dasar itu, Wahyu dan rekannya berembuk mencari jalan keluar, agar mereka tak perlu repot-repot melakukan follow up produksi mebel ke customer.

"Selain itu, kita juga ingin membuat produk yang tidak membuat orang berpikir harganya kemahalan," kata Wahyu.

Mulai Berkonsep
Menjalankan bisnis mebel secara umum, tanpa konsep khusus disadari Wahyu bikin bisnisnya sulit berkembang. Ia dan sang rekan sepakat menentukan konsep khusus yang akan menimbulkan ciri khas dari produk yang ia buat.

Ia pun memutuskan untuk mengubah produknya dari mebel yang berukuran besar menjadi furnitur minimalis dan hemat ruang. Setelah melakukan riset, Wahyu mulai menggarap ambalan (rak) dinding berbentuk kotak dengan desain yang sangat umum dan sederhana.

Kala itu, nama Decorunic pun sudah muncul namun belum dipatenkan mengingat desain produk yang masih terlalu generik dan bisa digarap oleh siapapun, baik pemain industri home decoration ataupun orang awam.

"Belum kita patenkan (nama produk) karena biar bagaimanapun, itu desainnya generik, semua orang bisa jualan itu. Yang terpenting adalah kita buat, jual, dan bisa dapat pembeli," jelas Wahyu.

Benar saja, tak lama setelah Wahyu menggarap ambalan dinding itu, perlahan tapi pasti mulai banyak orang yang membuat produk serupa. Meski sebelumnya sudah ada di tempat lain, seperti Bandung dan Bogor. Namun, Wahyu mengklaim dirinya menjadi pencetus ambalan dinding khas Jepara.

Wahyu pun tak mau ambil pusing dan tidak ingin mempermasalahkan banyaknya produk ambalan dinding serupa dari Jepara. Sekali lagi, hal itu tak lepas dari desain produk tersebut yang sederhana dan generik, tanpa ciri tertentu apalagi paten, sehingga setiap orang bisa dan diperbolehkan membuatnya.

Sadar diri bisnisnya menghadapi luasnya samudra, kekhasan memang harus dimilikinya. Perlahan, Decorunic mulai berkembang dengan konsep furnitur minimalis yang hemat ruang.

Wahyu mengincar pasar orang-orang yang memiliki tempat tinggal kecil tapi tetap menginginkan furniture yang sesuai. Dari situ, ia juga mulai menggarap produk-produk multifungsi, seperti meja tamu yang dapat dimodifikasi menjadi meja belajar, hingga meja lipat yang menempel di dinding.

Tanpa menyebut jumlah, Wahyu menyebut, kala itu ia mulai merekrut customer service, marketing, dan tenaga kerja lainnya, sampai ke bagian packing.

Khusus untuk meja lipat, Wahyu mengakui sebelumnya produk itu sudah banyak tersedia di pasaran sehingga ia lagi-lagi harus memutar otak untuk membuat pembeda. Alhasil, terlahirlah meja lipat dengan bentuk khas Decorunic.

"Kalau orang di luar sana hanya bikin bentuk kotak, meja lipat kita berbeda, yakni ada seperti huruf D atau ada lekukannya. Akhirnya, itu jadi ciri khas," tuturnya.

Karakter Decorunic pun ia pikirkan sampai kepada packaging. Jika produk lain hanya menggunakan kardus bekas dan bubble wrap, Wahyu justru mencetak packaging sendiri guna menciptakan ciri khas dan citra Decorunic yang nantinya akan semakin dikenal masyarkat.

Terus Berkembang
Strategi berjalan. Jumlah pelanggan pun mulai mengalir deras. Kini, modal kerja pun bukan lagi masalah bagi Decorunic.

Asal tahu saja, ketika Decorunic berdiri, ia memulai bisnis mebel dengan modal total Rp4 juta dari hasil patungan dengan rekannya, masing-masing Rp2 juta per orang. Kala itu, ia tak begitu memikirkan keuntungan. Ia hanya berharap, bisnisnya bisa berkelanjutan.

“Jangan sampai kita terlena sama keuntungan dulu. Keuntungan itu ibaratnya puasa dulu lah sampai benar-benar sustain, kami mikirnya gitu. Akhirnya dari situ bisa ngerekrut karyawan, teman-teman yang lain gabung, bisa buka lapangan kerja gitu,” ungkap Wahyu.

Perbaikan kembali dilakukan. Pada 2018, Wahyu akhirnya memutuskan untuk membentuk CV demi alasan legalitas. Selanjutnya, pada 2019, nama Decorunic ia daftarkan untuk Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) yang baru bisa terbit pada tahun ini.

Ia mengakui bisnis yang saat ini digeluti jauh lebih efektif karena tak perlu lagi melakukan follow up ke customer. Produk-produk Decorunic saat ini memiliki stock tersendiri, dengan modal produksi dari kocek pribadi mengingat ukuran barang yang kecil.

"Secara modal memang tidak banyak karena barangnya itu kecil, bukan seperti furnitur yang besar-besar. Kalau furnitur besar, kita mau stock bikin 1 lemari saja sudah kehabisan modal," imbuhnya.

Berawal dari stocking produk-produk sederhana, seperti ambalan dinding, hasil penjualan terus ia putar. Kini Decorunic memiliki berbagai variasi produk home decor minimalis dan hemat ruang, mulai dari meja tamu, lemari buku, hingga meja rias.

Ia berani menggaransi, produknya memiliki ciri khas tersendiri, tidak sama dengan brand lainnya.

"Dulu desainnya generik sehingga kita mulai rekrut desainer dan drafter untuk bikin desain sendiri dan gimana caranya agar desain itu harus berbeda dari yang lain," sambungnya.

Decorunic saat ini mematok harga termurah Rp9 ribu untuk produk rak dinding besi ukuran kecil. Termahal di kisaran Rp2,5 juta yakni meja rias portable dengan berbagai fitur untuk memberi kesan tersendiri bagi konsumen. Seluruh produk-produk Decorunic pun menggunakan bahan ply wood dan deco sheet.

Secara keseluruhan, produk meja lipat menjadi yang paling laris dibeli di Decorunic. Per bulannya, Wahyu menyebut produk tersebut bisa laku sekitar 1.000 unit dan dikirim ke berbagai daerah.

"Meja tamu juga jadi salah satu paling laris. Walau baru launching bulan kemarin, tapi sudah 50 yang terjual dalam sebulan," jelas dia.

Mengingat tak ada kepastian jumlah produk yang dikirim dalam satu paket, ia tak bisa memperkirakan produk yang terjual dalam sebulan. Meski begitu, Wahyu memastikan setiap bulannya Decorunic melakukan pengiriman di kisaran 2.000-3.000 paket.

Tak sampai situ, Decorunic juga beberapa kali mengirim produknya ke berbagai negara, utamanya melalui platform Shopee. Pengiriman lintas negara pun pernah dilakukan secara mandiri tahun lalu ke Inggris, namun tidak diteruskan mengingat ongkos kirim yang terlalu besar.

"Jadi tidak kita teruskan karena kadang ada pembeli yang keberatan, harga (produk) dan ongkos kirim lebih mahal ongkos kirimnya. Akhirnya kami pending dulu untuk retail jualan yang ngirim ke Eropa tidak kami jalankan dulu," ujar Wahyu.

Perkembangan yang terjadi pada Decorunic tak pernah dibayangkan oleh Wahyu sebelumnya. Ia mengaku awalnya tak begitu tertarik dengan dunia perfurnituran. Bisnis mebel yang ia mulai pada 2016 silam itu pun hanya sebagai pekerjaan sampingan.

“Namun karena saya rasa ini menjanjikan, akhirnya pada 2020 saya resign dari pekerjaan utama dan mulai serius di Decorunic,” ungkapnya.

Segmentasi
Desain yang minimalis dan hemat ruang yang dilengkapi dengan keunikan produk-produk Decorunic itu pun tak lepas dari sasaran pasar anak muda. Wahyu mengakui secara segmentasi, Decorunic menyasar konsumen mulai dari usia 25 hingga 55 tahun.

Secara spesifik, ia menargetkan pembeli Decorunic adalah mereka yang baru menikah atau baru memiliki rumah yang tidak besar.

"Kami sinkronisasi furnitur itu harus hemat ruang, karena biasanya ketika baru pisah dengan orang tua, itu beli rumah tidak besar-besar banget. Jadi, dia tetap bisa beli furnitur tapi tidak beli furnitur yang terlalu banyak. Itu relevansinya sama segmentasi pasar kita seperti itu," ucapnya.

Ia tak menampik, dewasa ini, hunian apartemen mulai ramai digandrungi, khususnya bagi para muda-mudi. Wahyu pun menyebut hal itu menjadi pertimbangan desain dari Decorunic, mengingat ada sejumlah furnitur yang bisa digunakan di rumah tapak namun tak bisa diterapkan di apartemen.

Realita maraknya anak muda yang tinggal di apartemen itu juga, menjadi salah satu alasan Decorunic tak sekadar menggarap home decor yang menempel di dinding. Pasalnya, beberapa apartemen menerapkan larangan merusak tembok, sedangkan produk yang menempel di dinding harus membolong tembok terlebih dahulu.

"Kita akhirnya juga bikin meja tamu, meja rias, dan lain-lain yang tidak harus nempel di tembok, jadi bisa mengcover anak muda yang tinggal di apartemen juga," kata dia.

Perjuangan Wahyu menjadi salah satu contoh, ciri khas produk memegang peranan penting dalam menjalankan bisnis. Bagi Wahyu, ciri khas dan idealisme yang kokoh jadi kunci, ketika ingin berenang dan jadi pemenang di pasar furnitur yang ramai pemain.

Intinya, dalam berbisnis, tak boleh hanya jadi pengikut ketika satu tren mencuat, tanpa ada pembeda atau ciri khas tertentu. Apalagi, hanya bermodal semangat dan berani banting harga untuk mematikan kompetitor.

"Harus ada unique selling point, keunikannya itu apa, value-nya itu apa, yang terpenting menurut saya itu sih," pungkasnya

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

INFOGRAFIS

TERPOPULER