Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

BERITA

04 Mei 2021|18:00 WIB

Jaga Stabilitas Harga, Dua BUMN Pangan Impor Daging Brasil

Industri peternakan masih menerima penugasan impor dari pemerintah lantaran kebutuhan daging yang meningkat dan produksi dalam negeri yang terbatas

Penulis: Zsasya Senorita Mc Ramadhani,

Editor: Nadya Kurnia Kartika Sari

ImageWarga memilih daging sapi pada perayaan tradisi Meugang Ramadhan 1442 H di pasar tradisional Lhokseu mawe, Aceh. ANTARAFOTO/Rahmad

JAKARTA – Mendekati hari Raya Idul Fitri 1442 H, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) bersama PT Berdikari (Persero) mengimpor daging sapi beku asal Brasil sebanyak 140 ton dan akan dilakukan secara bertahap hingga tercukupi pemenuhan kebutuhan daging menjelang Idul Fitri 2021.

Dua BUMN ini mengaku, impor dilakukan demi menjaga stabilitas harga daging dengan memenuhi ketersediaan komoditas pangan tersebut di hari raya. Direktur Utama PT Berdikari (Persero) Harry Warganegara mengatakan, realisasi penugasan impor yang diberikan pemerintah ini bertujuan menyeimbangkan kebutuhan dengan stabilisasi harga pangan daging menjelang hari raya, sekaligus  membantu pemerintah menjaga tingkat inflasi melalui stabilitas harga pangan. 

Senada, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI -sebagai calon induk holding BUMN Klaster pangan- mengaku mendukung pemerintah dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan. Direktur Utama RNI Arief Prasetyo Adi menilai, selain untuk menjaga stabilitas harga menjelang Lebaran, impor daging juga memberi kesempatan Indonesia untuk mengkaji kualitas produk sapi yang kali ini berasal dari Brasil. 

“Ini kesempatan untuk melihat kualitas komoditas sapi asal Brasil untuk kami kaji produknya sebagai bagian dari transformasi pangan dan tentu penekanan impor ke depannya,” aku Arief dalam keterangan tertulis yang diterima pada Selasa (4/5). 

Ia mengakui bahwa BUMN klaster pangan, khususnya industri peternakan masih menerima penugasan-penugasan impor dari pemerintah lantaran kebutuhan daging yang meningkat dan produksi dalam negeri yang terbatas, apalagi menjelang hari raya Lebaran. 

Arief menyatakan bahwa sebelumnya, RNI telah menerima arahan Menteri BUMN Erick Thohir untuk mengkaji skema transformasi pangan komoditas daging dalam rangka wacana pembelian peternakan sapi di Belgia, mulai dari kajian asal produk negaranya, kualitas daging sapinya, serta model bisnisnya.

Ia pun melakukan kunjungan kerja ke lokasi bongkar muat dan menyaksikan kedatangan impor daging sapi asal Brasil di Indonesia melalui pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu (1/5). Ia mengatakan, data statistik kebutuhan daging di Indonesia meningkat pada saat hari-hari besar keagamaan khususnya bulan Ramadhan dan Lebaran.

Di sisi lain, RNI mengaku memiliki sejumlah tantangan untuk pembenahan klaster pangan dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Arief mengatakan, tantangan yang perlu dibenahi meliputi sejumlah komoditas pangan yang memiliki tingkat produktivitas rendah dan ketergantungan impor yang tinggi, adanya mismatch geografis dari  pasokan dan permintaan, infrastruktur yang belum optimal seperti contohnya perikanan, kurangnya kesejahteraan petani, nelayan hingga penegakan aturan dan kebijakan pangan. 

“Dari tantangan itu, kami telah menyiapkan skema melalui keterjangkauan pangan untuk mendukung ketahanan pangan nasional,” jelas Arief. 

Baginya, keterjangkauan pangan untuk mendukung ketahanan pangan nasional bisa dimulai dari skala mini rumah tangga keluarga, oleh karenanya RNI menyiapkan sejumlah skema mulai dari keterjangkauan fisik dengan memberikan kemudahan sarana dan prasarana mobilitas maupun pasar yang memadai untuk konsumsi skala rumah tangga atau keluarga.

Skema kedua, lanjut Arief, yaitu keterjangkauan ekonomi untuk merangsang rumah tangga atau keluarga memiliki minat dan daya beli yang cukup untuk mendapatkan bahan pangan sesuai kebutuhan.

Skema lainnya adalah melalui keterjangkauan sosial yaitu masyarakat skala keluarga dapat dengan mudah terlayani kebutuhan pangan keluarga melalui sistem aplikasi online. 

Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin pada kesempatan seminar ketahanan pangan nasional bersama Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (PRK-MUI) dan Kementerian Pertanian RI menyampaikan bahwa dampak pandemi covid-19 menjadi perhatian bersama, antisipasi adanya kelangkaan dan krisis pangan dunia. 

“Indonesia perlu menjadi penghasil pangan besar di dunia untuk menjaga cadangan pangan dalam negeri serta untuk memastikan terjaminnya stok pangan nasional,” jelas Ma'ruf. 

Sementara itu, Ketua Umum MUI Miftachul Akhyar menyampaikan bahwa ketahanan pangan memang merupakan permasalahan yang sangat vital dihadapi oleh bangsa ini. Menurut dia, faktor yang menyebabkan lemahnya ketahanan pangan dan menimbulkan kemiskinan adalah karena tidak adanya pemerataan.

“Masalahnya sekarang yang terjadi banyak orang kekenyangan, satu sisi banyak orang yang kelaparan. Kembali lagi kepada pemerataan yang sampai sekarang masih menjadi permasalahan,” jelasnya.

Menanggapi isu pemerataan tersebut RNI bersama BUMN Klaster Pangan juga menyiapkan skema integrasi rantai nilai pangan dari hulu ke hilir mulai dari peningkatan pendampingan dan kapasitas offtake melalui model kerja sama yang beriringan dengan petani, peternak, dan nelayan. Pengembangan produk kebutuhan pangan keluarga seperti minyak goreng, telur, teh, tepung terigu, kecap termasuk pangan protein ayam, daging, dan ikan. 

"Kemudian mempersiapkan efisiensi logistiknya untuk kemudahan distribusi pangan dan di hilirnya telah bekerja sama dengan UMKM, mitra retail, warung pangan baik secara luring maupun daring melalui beberapa platform e-commerce," pungkas Arief. 


 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA