Selamat

Senin, 25 Oktober 2021

02 Oktober 2021|13:23 WIB

Inovasi Jadi Kiat Cilet Cokelat Bertahan Hadapi Pandemi

Cilet Cokelat menciptakan produk yang siap diterima pasar.

Oleh: Fin Harini

ImageIlustrasi produksi cokelat. Pekerja mengolah cokelat saat proses produksi di Delicacao Bali, Tabanan, Bali, Senin (31/5/2021). ANTARAFOTO/Nyoman Hendra Wibowo

Banda Aceh - Industri Kecil Menengah (IKM) coklat khas Aceh menyebutkan upaya mencari produk yang cepat diserap pasar, menjadi jurus bertahan di tengah pandemi covid-19. Lewat inovasi produk, penghasilan yang diterima pun meningkat.

“Kami banyak berinovasi produk masa pandemi ini guna memiliki penghasilan cepat, dan alhamdulillah kami tetap bertahan di tengah covid-19,” kata pelaku usaha Cilet Cokelat Didi Supriadi, di Banda Aceh, Jumat (2/10), dilansir dari Antara.

Inovasi pada produk yang dilakukan Cilet Cokelat adalah membuat bubuk menjadi minuman siap saji. Juga, mengolah makanan khas Aceh menjadi cemilan seperti cokelat.

Dengan upaya itu, Cilet Cokelat kini memiliki 30 jenis. Terdiri dari 28 cokelat batangan dengan berbagai varian rasa, satu varian bubuk serta satu varian minuman.

Inovasi produk ini didukung pada perluasan pemasaran. Tak hanya mengandalkan toko fisik, namun juga merambah pemasaran di toko digital.

"Cilet Cokelat ini juga bisa kita sediakan di swalayan-swalayan sebagian Aceh. Penjualan seluruh Indonesia melalui media online instagram dan whatsapp,” ujarnya.

Dirinya menyampaikan, Cilet Cokelat miliknya tersebut saat ini sudah memiliki tiga outlet resmi di Banda Aceh. Kemudian juga bisa didapatkan pada toko penjualan souvenir di ibu kota Provinsi Aceh itu.

Terkait omzet penjualan dari tiga outletnya, Didi tidak mau memberitahunya, baik tingkat pendapatan sebelum pandemi maupun saat virus corona menyerang Indonesia.

“Untuk sementara omzetnya (cilet cokelat) cukup,” kata Didi.

Cilet Cokelat ini berdiri di Banda Aceh sejak Desember 2014, usaha ini dikemas dengan konsep memperkenalkan Aceh lewat cover cokelat yang memperlihatkan budaya, tarian, wisata, dan lain sebagainya.

Usaha Cilet Cokelat ini menjadi salah satu IKM binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh sejak 2016, saat program PENAS KTNA.

Dalam kesempatan ini, Didi juga menjelaskan selama menjadi salah satu IKM binaan Disperindag Aceh, jaringan perdagangannya semakin luas, bahkan sampai ke tingkat internasional.

"Banyak dilibatkan di berbagai pameran lokal, nasional maupun internasional, dan juga dilibatkan dalam berbagai pelatihan," demikian Didi.

Sebagai informasi, produksi kakao Aceh menempati peringkat ke 7 di nusantara. Pada 2019, data Produksi Kakao Menurut Provinsi di Indonesia mencapai 41.093 ton. Tumbuh 4,58% dibandingkan 2018 sebesar 39.295 ton.

Pada 2019, total produksi kakao nusantara sebesar 734.796 ton. Penyumbang produksi terbesar adalah Sulawesi Tengah, yakni 128.154 ton. Disusul Sulawesi Tenggara 115.023 ton dan Sulawesi Selatan 103.470 ton.

World Atlas menempatkan Indonesia di urutan ketiga produsen terbesar pada 2020. Pantai Gading menjadi produsen terbesar dengan produksi 2.034.000 ton dan Ghana sebesar 883.652 ton. Sedangkan, produksi Indonesia sebesar 659.776 ton.

ICCO mencatat, konsumsi cokelat per kapita di dunia didominasi oleh negara-negara Eropa, dengan urutan Swiss sebanyak 8,8 kg perkapita/tahun, Austria (8,1 kg perkapita/tahun), Jerman (7,9kg perkapita/tahun), Inggris (7,6 kg perkapita/tahun), dan Swedia (6,6 kg perkapita/tahun). 

Akan tetapi, jika dilihat konsumsi total dalam satu negara, Amerika Serikat menduduki tingkat pertama sebesar 1,7 juta ton coklat pertahun, disusul oleh Jerman (hampir 1 juta ton/tahun), Brazil (hampir 600.000ton/tahun), Inggris (sekitar 500.000 ton/tahun), Perancis (sekitar 400.000 ton/tahun), dan Jepang (hampir 300.000 ton/tahun).

Namun, meski produsen utama kakao dunia, tingkat konsumsi cokelat penduduk Indonesia justru rendah. Hanyalah sekitar 0,5 kg/tahun/orang.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA