Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

BERITA

10 Juni 2021|16:30 WIB

Industri Tekstil Minta Pemerintah Realisasikan Safeguard

Ekosistem tekstil akan berupaya membenahi daya saing di dalam negeri selama pelaksanaan safeguard itu.

Penulis: Khairul Kahfi,

Editor: Fin Harini

ImagePekerja di Pabrik Industri Tekstil Nanjung, Cimahi, Jawa Barat beberapa waktu lalu. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

JAKARTA - Industri tekstil nasional minta pemerintah segera merealisasikan langkah pengamanan perdagangan atau safeguard dari serbuan produk pakaian impor. Ekosistem tekstil akan berupaya membenahi daya saing di dalam negeri selama pelaksanaan safeguard itu.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa menjelaskan, pelaksanaan safeguard diutamakan untuk membendung banjir produk dari negara lain. Secara spesifik, pengamanan itu lebih ditujukan kepada produk kain.

"Safeguard kain ini juga tidak akan selamanya, tujuannya API dan APSyFI juga untuk membenahi (teknis) ke dalam dan keluar," jelasnya dalam konpers virtual 'Kepastian Pasar Produk Lokal Dalam Rangka Pemulihan TPT Nasional', Jakarta, Kamis (9/6).

Jemmy pun lanjut menjelaskan, perbaikan keluar mencakup kondisi di luar teknis manufaktur TPT yang berdampak pada ekosistem secara keseluruhan. Dirinya akan berupaya membantu pemerintah membereskan regulasi yang pelaksanannya di lapangan belum setara. Seperti harga gas dan listrik, serta peraturan lain yang dinilai lebih ketat dibanding industri lain. Begitu pun pengaturan kegiatan perdagangan atau pemasukan produk lewat jalur online serta offline.

Sementara, untuk perbaikan ke dalam ekosistem juga akan dilakukan pelaku industri. Langkah pembenahan SDM di perusahaan akan ditempuh bekerja sama dengan banyak pihak. Tidak lupa juga revitalisasi di sisi permesinan.

Dengan demikian, optimalisasi pasar ekspor produk pakaian di dunia yang terus membesar dari waktu ke waktu, dengan mengandalkan industri kecil-menengah di Tanah Air.

"Makanya kita harus berbenah dulu kasih kesempatan industri kita. Saya sampaikan beberapa kali sebelum IKM bisa ekspor, kita harus bisa menguasai pasar dalam negeri dulu," jelasnya.

Apalagi pasar di dalam negeri yang begitu besar bisa dimaksimalkan dan dioptimalkan.

Terkait ekspor oleh IKM, pembenahan yang dimaksud mencakup pelatihan kualitas produk, desain, hingga ketepatan waktu pengiriman. Baru setelah itu, harapannya IKM bisa mencicipi pangsa pasar produk yang begitu luas di global.

Selain menghadapi serbuan produk impor, saat ini industri tekstil dan produk tekstil juga mesti menghadapi tantangan lain dalam mempenetrasi ekspor ke dunia. Lantaran adanya perbedaan yang sigfinikan pada biaya logistik Indonesia dibanding negara pesaing lainnya.

Contohnya, dengan India yang biaya logistiknya lebih murah. Pada Juli 2020, setiap kontainer ukuran 40 ft yang dikirim India ke Eropa hanya US$1.100. Sedangkan, pengiriman yang sama dari Jakarta ke Istanbul, Turki biayanya bisa menembus US$2.200.

Apalagi, kondisi pandemi juga mengubah lansekap logistik dunia menjadi lebih mahal dari sebelumnya. Per Mei 2021, pengiriman yang sama  dari Jakarta  ke tujuan yang sama menyentuh US$13.300, sedangkan India hanya  US$3.825.

“Sudah waktunya kita harus berbenah dan untuk bersaing di pasar ekspor. Semua negara pasti industri TPT berusaha untuk ekspor,” tegasnya.

Perbedaan harga itu itu berdampak pada harga jual produk di tingkat konsumen. Konsumen di negara tujuan tidak mau tahu produknya berasal dari negara mana, namun yang lebih penting adalah mendapatkan harga yang miring.

Kondisi ini membuat selisih antara produk Indonesia dan India bisa begitu tinggi. Karena itu, membuat produk Indonesia kalah bersaing.

“Perbedaannya dulu hanya US$5 sen, sekarang US$20 sen. Dengan perbedaan seperti itu saja kita harus berputar otak untuk menekan efisiensi dengan berbagai cara juga tidak mudah karena sangat signifikan,” ujarnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER