Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

BERITA

04 Mei 2021|20:14 WIB

Hari Ini IHSG dan Rupiah Kompak Ditutup Menguat

Analis memprediksi indeks IHSG dan rupiah pada besok Rabu (5/5), akan kembali menguat.

Penulis: Fitriana Monica Sari,

Editor: Fin Harini

ImagePekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (9/10/2020). ANTARAFOTO/Akbar Nugroho Gumay

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG Bursa Efek Indonesia pada Selasa (4/5) sore, ditutup menguat didorong data manufaktur domestic yang ekspansif.

Sebelumnya, IHSG pada Selasa pagi, dibuka menguat. Kemudian, IHSG sempat terkoreksi di tengah perdagangan, namun kembali naik ke zona hijau satu jam sebelum berakhirnya perdagangan saham.

IHSG ditutup menguat 11,22 poin atau 0,19% ke posisi 5.963,82. Begitu pula dengan kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 yang naik 4,58 poin atau 0,52% ke posisi 888,92.

"Pasar sudah menunjukkan pemulihan ekonomi yang signifikan terlihat manufaktur kita ekspansi 54,6 dari sebelumnya 53,2. Artinya, konsumsi masyarakat sudah membaik terlihat juga dari kenaikan inflasi di angka 1,42% secara tahunan (year on year/yoy)," kata analis Foster Asset Management, Suharto di Jakarta, Selasa (4/5), seperti dikutip dari Antara.

Ia memperkirakan sampai penutupan minggu ini, IHSG masih akan bergerak menguat di 5.900-6.100 menyusul data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal I-2021 yang akan dirilis minggu ini.

Analis Bina Artha Sekuritas, Nafan Aji pun juga mengatakan, faktor PMI Manufaktur Indonesia yng ekspansif memang mendorong penguatan IHSG hari ini, di samping faktor stabilitas inflasi domestik.

"Selain itu, market juga mengapresiasi program vaksinasi global yang berjalan dengan lancar," ujar Nafan.

Research Analyst Artha Sekuritas Indonesia, Dennies Christoper menambahkan kepada Validnews, Selasa (4/5), IHSG ditutup menguat didorong oleh aksi beli investor yang melihat pergerakan yang telah mencapai level jenuh jual.

"Pergerakan masih cenderung terbatas karena investor wait and see menanti data GDP," ucapnya.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor terkoreksi, di mana sektor barang konsumen primer turun paling dalam, yaitu minus 1,08%. Diikuti sektor properti & real estat dan sektor barang konsumen non primer, masing-masing minus 0,93% dan minus 0,64%.

Sedangkan, tujuh sektor meningkat, di mana sektor perindustrian naik paling tinggi, yaitu 1,16%. Diikuti sektor teknologi dan sektor barang baku, masing-masing 0,94% dan 0,8%.

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy sebesar Rp416,36 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 994.271 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 18,5 miliar lembar saham senilai Rp9,3 triliun. Sebanyak 223 saham naik, 251 saham menurun, dan 169 saham tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini, antara lain indeks Hang Seng naik 199,6 poin atau 0,7% ke 28.557,14 dan indeks Straits Times terkoreksi 5,63 poin atau 0,18% ke 3.179,13. Sedangkan, bursa Jepang dan China libur.

Dennies memprediksi, indeks IHSG pada besok Rabu (5/5), akan kembali menguat. Menurutnya, pergerakan saat ini berada level support dan stochastic berada di level oversold mengindikasikan potensi rebound jangka pendek.

"Pergerakan masih dibayangi oleh kasus covid-19 serta rilis laporan keuangan kuartal I-2021. Investor juga akan mencermati rilis data GDP Indonesia," imbuhnya.

Analis Artha Sekuritas itu memprediksi indeks akan menguat dengan level resistance 5.980 hingga 5.998 dan level support di antara 5.914 hingga 5.938.

Rupiah Menguat Sendirian
Berbanding lurus dengan IHSG, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa (4/5) sore, juga ditutup menguat. Rupiah bahkan menguat sendirian di tengah pelemahan mata uang kawasan Asia.

Rupiah pada pagi hari, dibuka stagnan di posisi Rp14.450 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.415 per dolar AS hingga Rp14.452 per dolar AS.

Rupiah ditutup menguat 20 poin atau 0,14% ke posisi Rp14.430 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.450 per dolar AS.

Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa (4/5) turut menguat menjadi Rp14.431 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.467 per dolar AS.

"Penguatan rupiah kemungkinan karena data ekonomi Indonesia yang menunjukkan perbaikan, yaitu data aktivitas manufaktur bukan April yang meninggi dibandingkan bulan Maret. Selain itu, mungkin juga karena kasus covid-19 di Indonesia yang masih terkendali walaupun menunjukkan sedikit kenaikan," kata Pengamat Pasar Uang, Ariston Tjendra di Jakarta, Selasa (4/5), dikutip dari Antara.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, hari ini dolar AS menguat terhadap mata uang lainnya karena investor mencerna komentar optimis Gubernur Federal Reserve (Fed), Jerome Powell tentang ekonomi Negeri Paman Sam.

"Powell mengatakan bahwa ekonomi AS secara bertahap pulih dari covid-19, tetapi memperingatkan bahwa ekonomi AS belum keluar dari masalah," ujar Ibrahim melalui siaran pers yang diterima Validnews, Selasa (4/5).

Ia menuturkan fokus investor saat ini adalah pada angka layanan yang akan dirilis pada Rabu (5/5), serta data penggajian pada Jumat dan pasar tampak seimbang.

Beberapa analis mengatakan, angka yang kuat dapat meningkatkan dolar dengan membawa ekspektasi ke depan untuk suku bunga yang lebih tinggi. Sementara yang lain berpendapat bahwa ekonomi AS yang kuat akan membebani mata uang karena impor meningkat dan defisit perdagangan tumbuh.

AS juga merilis Indeks Manajer Pembelian Manufaktur Institute of Supply Management (ISM) yang lebih rendah dari perkiraan, yaitu 60,7 untuk April. Kekurangan input terhadap permintaan yang terpendam karena tingkat vaksinasi covid-19 meningkat dan langkah-langkah stimulus AS lebih lanjut diusulkan, menyebabkan penurunan indeks yang mengejutkan.

Investor sekarang mencari data lebih lanjut yang akan dirilis akhir pekan ini, termasuk neraca perdagangan AS dan laporan ketenagakerjaan AS April.

Beberapa investor menyarankan bahwa angka yang kuat dapat meningkatkan dolar dengan membawa ekspektasi ke depan untuk suku bunga yang lebih tinggi. Sementara yang lain berpendapat ekonomi AS yang kuat akan membebani dolar karena impor naik dan defisit perdagangan tumbuh.

Indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang lainnya saat ini berada di posisi 91,34, turun dibandingkan posisi penutupan sebelumnya 90,95.

Sedangkan, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun kini berada di level 1,615%, naik dibandingkan posisi penutupan sebelumnya 1,606%.

Ibrahim menuturkan, rupiah pada perdagangan besok Rabu (5/5), akan dibuka berfluktuasi namun kembali ditutup menguat. "Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuasi, namun ditutup menguat di rentang Rp14.410-Rp14.450 per dolar AS," tuturnya. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

INFOGRAFIS

TERPOPULER