Selamat

Kamis, 20 Januari 2022

EKONOMI | Validnews.id

EKONOMI

26 November 2021

08:49 WIB

Hadapi Drop In The Ocean AS, China Diam, OPEC Tak Ubah Arah

Harga minyak turun tipis di tengah ketidakpastian

Editor: Fin Harini

Hadapi <i>Drop In The Ocean</i> AS, China Diam, OPEC Tak Ubah Arah
Ilustrasi pekerja tambang beraktivitas di area pengeboran minyak dan gas bumi. ANTARA/HO-SKK Migas.

BEIJING – China, importir minyak mentah terbesar di dunia, belum menunjukkan komitmen untuk mengikuti ajakan Amerika Serikat melepaskan minyak dari cadangan strategis untuk menurunkan harga. Sementara itu, sumber OPEC mengatakan tindakan AS tidak membuat kelompok produsen mengubah arah.

Dilansir dari Antara, Jumat (26/11), pemerintahan Presiden AS Joe Biden Pada Selasa (23/11), mengumumkan rencana untuk merilis minyak dari cadangan strategis. AS juga mengajak negara-negara konsumen besar lainnya, termasuk China, India, dan Jepang, untuk mencoba mendinginkan harga.

Amerika Serikat telah membuat komitmen terbesar untuk pelepasan cadangan sebesar 50 juta barel penjualan yang telah disetujui sebelumnya bersama dengan pinjaman ke pasar. Tetapi, tanpa China, tindakan tersebut akan berdampak lebih kecil.

Departemen Energi AS telah meluncurkan lelang untuk menjual 32 juta barel cadangan minyak strategis (SPR) untuk pengiriman antara akhir Desember hingga April 2022. AS berencana untuk segera melepaskan 18 juta barel lagi.

Tidak ada pengumuman lebih lanjut dari Beijing pada Kamis (25/11) setelah China pada Rabu (24/11) mengatakan sedang mengerjakan rilis cadangannya sendiri. Sebelumnya, Reuters pada pekan lalu melaporkan China akan melepaskan minyak sesuai dengan kebutuhannya.

Pada Selasa (23/11), Biden telah mengatakan kepada sebuah pengarahan bahwa China "mungkin berbuat lebih banyak".

Rencana pelepasan cadangan ini sempat membuat harga minyak ditutup lebih rendah, tetapi pasar internasional naik lebih dari 3,0% pada Selasa (23/11) karena pasar tidak memiliki kejelasan tentang niat China.

Pasar juga tertarik untuk melihat langkah OPEC selanjutnya karena pengumuman Washington meningkatkan spekulasi bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang secara kolektif dikenal sebagai OPEC+, mungkin akan merespons.

Namun, tiga sumber mengatakan kepada Reuters bahwa kelompok tersebut tidak mempertimbangkan untuk menghentikan kesepakatan saat ini untuk meningkatkan produksi sebesar 400.000 barel per hari setiap bulan, tingkat yang dianggap terlalu lambat oleh beberapa negara konsumen.

OPEC+ telah menambah pasokan 400.000 barel per hari sejak Agustus, melepaskan rekor pengurangan produksi yang dibuat tahun lalu ketika pembatasan pandemi menghantam permintaan. Namun, permintaan minyak kembali meningkat tahun ini seiring pelonggaran pembatasan aktivitas, menyebabkan kenaikan harga minyak dan memicu inflasi yang lebih luas.

Biden, menghadapi peringkat persetujuan yang rendah menjelang pemilihan kongres tahun depan, frustrasi setelah OPEC+ mengabaikan permintaannya yang berulang untuk memompa lebih banyak minyak. Harga bensin eceran AS naik lebih dari 60% pada tahun lalu, tingkat kenaikan tercepat sejak tahun 2000.

Harga Turun Tipis
Pada Kamis (25/11), minyak mentah berjangka Brent telah tergelincir 8 sen atau 0,1% dan diperdagangkan di US$82,17 per barel pada pukul 18.02 GMT. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS juga merosot 36 sen atau 0,5%, menjadi diperdagangkan di US$78,03 per barel.

Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates yang berbasis di Houston menilai perdagangan tidak memiliki arah yang jelas karena waktu pelepasan minyak masih belum pasti.

"Mengingat hari libur di AS dan dengan volume (perdagangan) yang ringan, saya pikir pasar mencerna rilis yang telah kita lihat diumumkan, dan bertanya-tanya reaksi apa yang mungkin kita lihat dari OPEC+," katanya.

OPEC+, yang mencakup Arab Saudi dan sekutu AS lainnya di Teluk serta Rusia, bertemu lagi pada 2 Desember untuk membahas kebijakan soal pasokan.

Kelompok itu memantau apakah pasar minyak seimbang, Menteri Perminyakan Irak Ihsan Abdul Jabbar mengatakan pada Rabu (24/11/2021), kelompok itu perlu mempelajari data terbaru sebelum membuat keputusan tentang pasokan.

Negara-negara produsen sudah berjuang untuk memompa cukup minyak memenuhi target yang ada dan mereka juga khawatir kebangkitan kasus covid-19 dapat kembali menurunkan permintaan.

"Pasar tampaknya percaya pada OPEC+ untuk menjaga keseimbangan minyak lebih ketat daripada percaya pada sifat sementara dari rilis SPR," kata Analis Pasar Minyak Senior Rystad Louise Dickson pada hari Rabu.

Upaya Washington bekerja sama dengan ekonomi utama Asia untuk menurunkan harga energi merupakan peringatan bagi OPEC+ untuk mengendalikan harga minyak mentah yang naik lebih dari 50% sepanjang tahun ini.

Di masa lalu, pelepasan cadangan multi-negara telah dikoordinasikan oleh Badan Energi Internasional (IEA), yang berbasis di Paris. IEA tidak melakukan intervensi untuk mempengaruhi harga, tetapi kepala agensi mengatakan pada Rabu (24/11) beberapa produsen telah membatasi pasokan terlalu banyak.

"Beberapa tekanan utama di pasar saat ini dapat dianggap sebagai pengetatan buatan ... karena di pasar minyak hari ini kita melihat hampir 6 juta barel per hari dalam kapasitas produksi cadangan terletak pada produsen utama, negara-negara OPEC+," Fatih Birol, kepala IEA mengatakan.

Rencana AS melepaskan 50 juta barel setara dengan sekitar 2,5 hari dari permintaan domestik negara tersebut. Namun, beberapa analis menyebut struktur rilis AS - kombinasi 18 juta barel penjualan yang telah disetujui sebelumnya dan pinjaman 32 juta barel - terlalu kecil dan sementara.

Goldman Sachs mengatakan, volume yang diumumkan adalah "setetes di lautan". Dampak penjualan dari cadangan strategis diperkirakan akan terasa pertama di Amerika Serikat dan kemudian Asia.

 




KOMENTAR | Validnews.id

KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER | Validnews.id

TERPOPULER