Selamat

Minggu, 20 Juni 2021

WIRAUSAHA

09 Juni 2021|20:14 WIB

Gelar Pelatihan, KemenkopUKM Perkokoh Koperasi Pangan Modern

Pelatihan untuk meningkatkan kompetensi SDM, manajemen, kualitas produksi, akses pasar, dan penguatan kelembagaan.

Penulis: Fitriana Monica Sari,

Editor: Fin Harini

ImageDeputi Bidang Perkoperasian KemenkopUKM, Ahmad Zabadi dalam memberikan pemaparan, Rabu (9/6). Kemenkop UKM/Dok

JAKARTA – Kementerian Koperasi dan UKM terus melakukan pengembangan koperasi sektor riil, khususnya koperasi pangan. Pengembangan koperasi pangan menuju koperasi modern diintervensi melalui berbagai pelatihan untuk meningkatkan kompetensi SDM, manajemen, kualitas produksi, akses pasar, dan penguatan kelembagaan.

Dua koperasi pangan, yakni Koperasi Tani Hijau Makmur di Tanggamus, Kabupaten Pringsewu, Lampung dan Koperasi Pondok Pesantren Al Ittifaq Ciwidew, Bandung, Pondok Pesantren Al Ittifaq menjadi sasaran untuk mendapat bimbingan teknis dan pelatihan dari Deputi Perkoperasian KemenkopUKM untuk penguatan koperasi tersebut.

Deputi Bidang Perkoperasian KemenkopUKM, Ahmad Zabadi mengatakan, Koperasi Tani Hijau Makmur mengonsolidasikan sekitar 300 petani pisang mas di Tanggamus dengan luas lahan kurang lebih 2.000 ha.

Menurut Ahmad, koperasi sudah terhubung dengan off taker, PT Great Giant Pineaple (GGP). Nantinya, seluruh hasil produksi petani pisang akan dibeli oleh PT GGP lewat Koperasi Hijau Tani Makmur sebagai agregator. Pisang mas tersebut diekspor ke Jepang, Taiwan, Australia, dan negara lain.

"Koperasi ini memiliki prospek yang bagus, tinggal memperkuat kelembagaan dan tata kelola koperasinya," kata Zabadi dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (9/6).

Sementara, Koperasi Pondok Pesantren Al Ittifaq Ciwidew, Bandung, Pondok Pesantren Al Ittifaq mengembangkan usaha sektor agribisnis dan peternakan. Selain itu, juga telah mengkonsolidasikan beberapa pondok pesantren di Jawa Barat.

"KemenkopUKM melihat Koperasi Pondok Pesantren Al Ittifaq dapat dijadikan piloting dan role model pengembangan ekonomi berbasis pondok pesantren," ujar Zabadi.

Lebih lanjut, ia menuturkan, Koperasi Pondok Pesantren Al Ittifaq dapat menjadi tempat studi banding oleh ponpes-ponpes di Indonesia. Hal itu karena pengelolaan bisnisnya dinilai sudah modern dan telah terhubung dengan off taker.

"Koperasi Al Ittifaq sebagai role model, dan menjadi agen perubahan atau agent of change di wilayah Jawa Barat, dan juga memotivasi santri menjadi santri preneur. Ponpes seperti ini akan melahirkan banyak santripreneur, dengan memiliki multi talenta, yakni sebagai ulama dan sebagai entrepreneur," tuturnya.

Deputi Bidang Perkoperasian telah melakukan intervensi untuk memantapkan positioning Kopontren Al Ittifaq menjadi terdepan dalam pengembangan ekonomi umat.

Untuk itu, KemenkopUKM melakukan FGD terkait Penguatan Kelembagaan dan Pemetaan Potensi Ekonomi Pondok Pesantren, Peningkatan Produktivitas Pengembangan Kemitraan dan Rantai Pasok, Pengembangan Koperasi melalui Merger dan Amalgamasi.

Zabadi mengatakan, koperasi sektor ril yang berbasis komunitas akan memberi warna baru dalam perekonomian nasional. Selain itu, akan menorehkan catatan bagus dalam daftar koperasi pangan modern di Indonesia.

Terkait pendanaan, Kementerian dapat mendorong LPDB-KUMKM dan menghubungkan dengan lembaga perbankan. Dikatakannya, membangun kemitraan dengan perusahaan besar menjadi sangat penting dilakukan koperasi sektor ril dalam pengembangan bisnis.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA