Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

16 Juni 2021|15:42 WIB

Dibayangi Tapering Off, BI Diprediksi Tahan Suku Bunga Acuan

Bank Indonesia diprediksi mempertahankan suku bunga acuan 3,50%.

Penulis: Rheza Alfian,

Editor: Fin Harini

ImageLogo Bank Indonesia. Shutterstock/dok

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan di 3,50% pada bulan ini. Berbagai faktor menjadi alasan BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan, mulai dari faktor domestik maupun eksternal.

“Salah satu pertimbangan BI adalah masih dibutuhkannya tingkat suku bunga yang relatif rendah agar proses pemulihan ekonomi tetap berjalan,” kata Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede kepada Validnews di Jakarta, Rabu (16/4).

Di sisi lain, sejalan dengan ancaman tapering dari bank sentral negara-negara maju, BI juga diperkirakan memilih untuk tidak menurunkan suku bunga lebih rendah dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar.

Josua menambahkan, di jangka pendek, mengingat belum adanya sinyal kepastian dari The Fed terkait kebijakan tapering, diperkirakan BI masih akan cenderung mempertahankan suku bunganya hingga akhir tahun.

Nantinya, kebijakan mempertahankan suku bunga akan diiringi dengan kebijakan akomodatif berupa quantitative easing (QE), serta triple intervention untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

“Dalam merespons proses normalisasi kebijakan moneter, BI akan tetap mendorong terciptanya stabilitas nilai tukar dengan melakukan triple intervention di pasar spot USD/IDR, DNDF dan pasar obligasi sebelum mempertimbangkan normalisasi kebijakan moneternya, melainkan melalui langkah-langkah stabilisasi,” jelas Josua.

Lebih lanjut, ia memperkirakan BI baru akan menaikkan suku bunganya ketika The Fed sudah mulai memberikan sinyal kuat dan konfirmasi terkait normalisasi suku bunganya.

BI juga dinilai akan mengelola stabilitas perekonomian dengan mendorong pendalaman pasar keuangan termasuk pasar uang sedemikian sehingga kondisi likuiditas dapat terkelola dengan baik.

Selain itu, juga memperkuat kerja sama Bilateral Swap Agreement dengan bank sentral global dalam rangka memastikan likuiditas valas dan juga dengan memperkuat kerja sama Local Currency Settlement dengan bank sentral di regional Asia untuk mengurangi ketergantungan terhadap dollar AS.

“Dengan kombinasi kebijakan tersebut, diharapkan kondisi likuiditas valas akan tetap terjaga yang berimplikasi pada cadangan devisa yang berada dalam level yang solid serta penguatan pendalaman pasar keuangan domestik diharapkan akan membatasi dampak negatif yang berpotensi ditimbulkan oleh normalisasi kebijakan moneter AS,” terang Josua.

Senada, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira juga mengingatkan BI untuk terus mencermati arah kebijakan moneter di negara maju.

“Kita tunggu rapat bank sentral AS atau The Fed terkait proyeksi adanya normalisasi kebijakan suku bunga dan pembelian aset,” katanya kepada Validnews di Jakarta, Rabu (16/4).

Menurutnya, jika The Fed melakukan tapering off lebih cepat dari perkiraan awal, maka imbas ke pelemahan rupiah semakin nyata. Ia bilang, dalam momentum itu BI sebaiknya lakukan persiapan matang untuk pertahankan bahkan tidak menutup kemungkinan menaikkan suku bunga acuan.

Meski demikian, Bhima menilai selain BI perlu mengantisipasi aliran dana keluar atau capital outflow, bank sentral juga harus memitigasi dampak ke biaya pinjaman kredit pelaku usaha yang semakin mahal.

“UMKM masih dalam proses pemulihan, kalau suku bunga naik maka banyak yang kaget. Bank juga harus bersiap hadapi risiko naiknya NPL jika bunga pinjaman meningkat,” ujarnya.

Jaga Pemulihan Ekonomi
Senada, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM UI) melihat BI perlu mempertahankan suku bunga acuannya.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menjelaskan, hal tersebut perlu dilakukan karena meningkatnya kepastian domestik dari kenaikan transmisi covid-19. Ditambah lagi, adanya perkiraan tekanan eksternal dari tapering off AS.

“Kami melihat bahwa BI perlu menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan serta mempertahankan suku bunga kebijakan di 3,50% bulan ini,” katanya dalam keterangan resmi, Jakarta, Rabu (16/4).

Membaiknya indikator ekonomi terkini, seperti inflasi umum, inflasi inti, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), Purchasing Managers Index (PMI), dan surplus perdagangan menunjukkan Indonesia masih konsisten berada di jalur pemulihan ekonomi.

Meskipun beberapa indikator ekonomi utama dari sisi domestik dinilai menunjukkan tanda pemulihan yang menjanjikan, meningkatnya kasus covid-19 di Indonesia akhir-akhir ini dinilai menunjukkan kemungkinan perbaikan kondisi ekonomi yang bersifat sementara.

Menurutnya, lonjakan kasus baru harian menjadi peringatan bagi pemangku kebijakan untuk mengantisipasi potensi gangguan pada agenda pemulihan ekonomi.

Jika kondisi ini tidak terkendali dalam waktu singkat, pemulihan kepercayaan konsumen dan bisnis disebut dapat memudar.

“Selain itu, munculnya kembali kasus covid-19 dapat menahan kepercayaan investor terhadap aset Indonesia dan menyebabkan arus modal balik,” katanya.

Di sisi lain, Riefky juga bilang, pasar menyadari sepenuhnya bahwa tekanan eksternal dari tapering off The Fed yang berpotensi lebih awal dari perkiraan masih berlanjut.

Jika The Fed memulai tapering off pada awal paruh kedua tahun ini, bank sentral negara-negara berkembang harus mempertimbangkan risiko dalam setiap pengukuran kebijakan yang mereka putuskan dalam waktu dekat.

“BI harus menjaga nilai tukar dan stabilitas keuangan sebagai langkah pre-emptive terhadap ketidakpastian global dari tapering off AS, meskipun basis moneter saat ini jauh lebih menguntungkan dari pada menjelang taper tantrum 2013,” ujarnya.

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER