Selamat

Minggu, 5 Februari 2023

EKONOMI

28 November 2022

20:48 WIB

Cuan Kopi Yang Tumbuh Mewangi

Dari mengandalkan teman sebagai pasar kopi produksinya, kini Firdaus Wahid merambah pasar mancanegara lewat perusahaan bernama Selandia Baru

Penulis: Nuzulia Nur Rahma,

Editor: Fin Harini

Cuan Kopi Yang Tumbuh Mewangi
Suasana perkebunan biji kopi CV Selandia Baru milik Firdaus di Batu Lintang, Aceh Tengah. ValidNewsID/Nuzulia Nur Rahma

BANDA ACEH – Tak lagi lekat dengan predikat minuman penahan kantuk, kini kopi bisa dinikmati kapan saja. Kopi bisa jadi teman saat belajar atau bekerja, tetapi juga jadi teman saat bersantai. 

Tempat menikmati kopi juga beragam. Selain di rumah, pecinta kopi pun bisa mencari suasana baru, bepergian dan berkencan sembari menikmati seduhan kopi. 

Lalu, diminum kala sendirian atau jadi pengiring obrolan, kopi tetap juara. Tidak terbatas oleh kalangan tertentu saja, kopi saat ini bisa diminati oleh seluruh masyarakat dan dapat memilih beragam harga, varian serta rasa yang unik. 

Pendeknya, kopi kian lekat pada keseharian masyarakat. Kopi adalah bagian gaya hidup.

Fenomena ini membuka mata Firdaus Wahid (29) untuk ikut berbisnis kopi. Apalagi, dia memang lekat dengan minuman berwarna pekat itu. Sejak masih duduk di bangku kuliah, di manapun berada, minuman yang dia pesan adalah kopi. Dari situ, dia membangun keahlian mendeskripsikan cita rasa kopi dengan varian hingga aroma yang beragam.

Tidak membuka kedai, Firdaus memilih bermain di sisi hulu. Dia berfokus dan bermain di skala besar pada produksi green bean atau biji mentah kopi. Dia juga memproduksi kopi bubuk, namun dalam skala lebih kecil.

Biji kopi didapatkannya dari kebun sendiri. Di kampung halamannya di Batu Lintang, Aceh Tengah, Firdaus memanfaatkan lahan keluarga kurang lebih 14 hektare untuk ditanami pohon kopi. 

"Jadi saya mempunyai lahan pertanian itu sekitar 14 hektare dan tersebar di beberapa kota dan kabupaten Aceh Tengah. Awalnya cuma iseng-iseng produksi sampai jual bubuk kopi sendiri, loh kok makin kesini makin enak. Akhirnya berlanjut sampai sekarang," tuturnya saat berbincang kepada Validnews pada Kamis (24/11).

Perkebunan milik Firdaus yang terbesar ada di Batu Lintang, Aceh Tengah. Tempat ini sekaligus dijadikan tempat produksi dan pengeringan biji kopi. Sementara itu, gudang pengadaan berada di Takengon. Dalam menjalankan usahanya, dia dibantu oleh dua puluh petani. Beberapa di antaranya masih tergolong keluarga.

Berangkat dari iseng, Firdaus kian serius menekuni bisnis kopi. Dia lantas membangun usaha yang diberi nama CV. Selandia Baru dan memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) sendiri.

“Selandia Baru celetukan yang muncul saja. Sebenarnya itu berada di logo, karena kita pingin terbang ke mancanegara agar semua orang bisa merasakan dan menikmati kopi kita,” imbuhnya.

Bisnis yang semula dianggapnya main-main, kini bisa berkembang. Sudah berjalan hampir lima tahun, Firdaus mengaku kini usaha kopinya menghasilkan omzet hingga Rp30-40 juta per bulan. 

Namun itu bukan angka tertinggi, dia malu-malu mengungkapkan pernah mendapatkan penghasilan hingga Rp100 juta dalam sebulan.

Namun, angka hanya sekedar angka. Dalam berbisnis, dia tahu persis ada kalanya usaha bisa jatuh bahkan terpuruk. Dalam hal ini, dia mengungkapkan cuaca adalah musuh sekaligus sahabat baginya. 

"Kalau kopi itu ada kalanya hujan dan terik sangat merugikan, tapi bisa juga ngebantu," ujarnya.

Mengandalkan matahari saat menjemur bubuk kopi, Firdaus mengungkapkan alasannya. Meski ada banyak teknologi dan proses lewat dry room, Firdaus menyebutkan bahwa proses alami menggunakan matahari merupakan metode terbaik untuk menghasilkan bubuk terbaik.

"Nah makanya kalau hujan terus bisa bisa stok yang diminta nanti kan tidak bisa dipenuhi, padahal kita udah tanda tangan kontrak. Itu kadang yang bikin rugi," tuturnya.

Dia tak berhenti pada proses membuat kopi. Dia juga mengirim kopi antar kota, bahkan provinsi. Sayangnya, belakangan faktor cuaca jadi kendala. Akibat hujan terus, dia kerap memperlambat pengiriman.

Saat ini, Firdaus menuturkan produknya telah dikirim di berbagai kota di Indonesia, sebut saja Semarang, Jakarta hingga Bali. Untuk pemasaran dalam negeri, dia biasa menandatangani kontrak kopi dengan volume pengiriman berkisar 4-5 ton sampai 10-20 ton.

"Ya memang ada asuransi (logistik), tapi itu paling cepat satu minggu, paling lambat satu bulan uangnya (asuransi). Terus yang kaya tadi saya bilang, kalau faktor cuaca lagi buruk harga kopi bisa ikut turun" katanya.

Merambah Pasar Luar Negeri
Untuk menyiasati keharusan memenuhi kuota kontrak di tengah cuaca buruk, Firdaus menjadi pengepul produk petani kopi kecil di daerahnya. Cara ini juga dilakukan lantaran ribuan pohon kopi miliknya tak selalu panen tiap bulan. Produk petani kopi lain bisa dijadikan stok.

Karena itu, dia mengakui modal yang diambil dalam membangun bisnis petani kopi sangat besar. "Modal di awal itu saya pernah hitung, kalau misalnya kita beli bahan ke petani yang sudah diproses hitungannya Rp80.000 atau Rp85.000 per 100 gram. Terus kita kirim harganya jadi Rp90.000 gitu," jelasnya.

Usai mendirikan CV Selandia Baru, dia tak langsung peroleh kontrak. Perlu waktu dan ketekunan dalam membangun kepercayaan hingga bisa berkontrak dengan pembeli. 

Saat memulai usaha kopi, dia hanya menjual kopi dari teman ke teman. Terhitung sudah empat tahun lamanya sejak memulai usaha, dia baru mendapat kontrak pertamanya. 

"Saya baru fokus di pengembangan bisnis itu sekitar tahun 2019, 2021 baru dapat kontrak," imbuhnya.

Ketekunan membuat bisnisnya berkembang. Selain dalam negeri, kini dia juga mengirim produknya hingga luar negeri. 

Bekerja sama dengan seorang teman, dia memperluas pasar dengan mengambil beberapa kuota kosong untuk pengiriman biji kopi. Dia menyebutkan biji kopi terbaik akan dikirim ke luar negeri.

"Untuk ekspor biasanya kita kirim ke Medan lewat Belawan, lewat kapal itu biasanya per-lot. Per-lot itu satu kontainer, sekitar 19 ton sampai 200 ton," imbuhnya.

Kuota ini lah yang berpengaruh pada penghasilannya. Semakin banyak mengambil kuota maka yang akan dikirim semakin besar pula penghasilannya. 

Varian Kopi dan Cara Menikmatinya
Sejatinya, kepribadian penikmat kopi tidak ada yang sama antara satu dengan yang lainnya. Begitu juga dengan preferensi mereka. 

Setiap penikmat kopi pasti punya pilihan bubuk kopi, cara pembuatan, atau waktu yang tepat ketika meminum kopi. Bagi mereka, preferensi pribadi itulah yang menjadikan minum kopi enak.

Jenis saat meminum kopi biasanya dibagi menjadi dua, yaitu berbasis espresso dan manual brew. Keduanya juga memiliki banyak turunan tergantung bahan apa yang ditambahkan di dalamnya. Meskipun berbahan dasar sama, perbedaan cara penyajiannya tentu akan membuat rasanya beda pula.

Misalnya saja espresso, kopi ini akan diekstrak menggunakan mesin penyeduh bertekanan tinggi. Hasil seduhannya hitam kental dan terdapat crema di permukaannya. 

Crema adalah busa cokelat yang memenuhi permukaan secangkir espresso sekaligus menjadi penanda bahwa kopi yang diseduh itu masih segar.

Namanya berasal dari bahasa Italia yang berarti express atau cepat. Oleh karena itu, orang-orang Italia biasa menikmatinya dalam waktu singkat. 

Espresso dibuat tanpa tambahan apa pun dan disajikan hanya sekitar 30-45 ml. Jenis minuman kopi ini merupakan pondasi untuk membuat minuman-minuman espresso based lainnya.

Ada juga Latte, komposisi latte adalah espresso yang kemudian dicampur dengan susu yang di-steam atau dipanaskan dengan uap. Susu yang dipanaskan dengan uap akan semakin kental dan membentuk buih, foam, atau froth. Susu yang kental itu sering dijadikan kreasi minuman kopi oleh para barista dan disebut dengan latte art.

Firdaus mengaku kecintaannya akan cita rasa kopi membuatnya dapat menentukan cara terbaik dalam menikmati kopi. Meski dia memiliki riwayat penyakit maag, ini tak menghalanginya menikmati kopi. Untuk itu, dia menganjurkan untuk meminum kopi secara orisinal.

"Jadi kalau mau enak dan jaga lambung itu enggak usah campur apapun. Gula, susu dan lainnya, enggak perlu. Minum kopi sebagaimana adanya itu paling nikmat," katanya.

Di perusahaannya,  ada beragam variasi biji dan rasa kopi. Firdaus mematok harga mulai dari Rp20.000 hingga Rp40.000 per seratus gram. 

Untuk kategori Roasted, dia memiliki Arabika Gayo Blend Super, Arabika Gayo Premium, Arabika Gayo Speciality, Arabika Gayo Peaberry, Arabika Gayo Longberry, Arabika Gayo Honey, Arabika Gayo Natural, Arabika Gayo Wine, Arabika Luwak Liar dan Robusta.

Sementara di jenis green bean, dia membanderol harga di kisaran Rp100.000 sampai Rp210.000 per 500 gram. Sejumlah jenis kopi dijualnya, seoerti Gayo Arabika Grade 1, Gayo Arabika Fullwash, Gayo Arabika Honey, Gayo Arabika Natural, Gayo Arabika Peaberry, Gayo Arabika Longberry, Gayo Wine Soft, Gayo Wine Strong dan Gayo Arabika Luwak Liar. 


KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentar Login atau Daftar





TERPOPULER