Selamat

Rabu, 22 September 2021

15 September 2021|12:17 WIB

BI: Pertumbuhan Utang Pemerintah Melambat

Akhir juli 2021, utang luar negeri indonesia US$415,7 miliar.

Penulis: Rheza Alfian,

Editor: Fin Harini

ImageIlustrasi. Mata uang Amerika Serikat. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Juli 2021 tumbuh melambat. Posisi ULN Indonesia pada akhir bulan Juli 2021 tercatat sebesar US$415,7 miliar.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI mengatakan posisi ULN Indonesia tersebut tumbuh 1,7% secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 2,0% yoy.

“Perkembangan tersebut terutama disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ULN Pemerintah,” katanya dalam keterangan resmi, Jakarta, Rabu (15/9).

Ia menjelaskan, ULN Pemerintah tumbuh lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Posisi ULN Pemerintah pada Juli 2021 mencapai US$205,9 miliar atau tumbuh 3,5% yoy, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan Juni 2021 sebesar 4,3% yoy.

Perkembangan tersebut, lanjutnya, disebabkan oleh penurunan posisi Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan pembayaran neto pinjaman bilateral, di tengah penarikan pinjaman luar negeri untuk mendukung penanganan dampak pandemi covid-19.

“Dengan tetap menjaga kredibilitas Pemerintah dalam pengelolaan ULN melalui pelunasan pokok pinjaman yang jatuh tempo,” ujarnya.

Erwin menambahkan, sesuai strategi pembiayaan yang telah ditetapkan, Pemerintah juga menerbitkan SBN dalam dua mata uang asing (dual-currency) yaitu dolar AS dan Euro pada bulan Juli 2021 untuk memenuhi pembiayaan APBN secara umum. Termasuk untuk mendukung percepatan pemulihan ekonomi akibat pandemi covid-19.

Ia menambahkan, penerbitan SBN valuta asing tersebut memanfaatkan momentum sentimen positif investor yang kuat dan kondusifnya pasar keuangan AS.

Pemerintah, imbuhnya, terus berkomitmen mengelola ULN Pemerintah secara hati-hati, kredibel, dan akuntabel untuk mendukung belanja prioritas. Antara lain mencakup sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib, yang mencakup 17,8% dari total ULN Pemerintah.

Kemudian, sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (17,2%), sektor jasa pendidikan (16,4%), sektor konstruksi (15,4%), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (12,6%). Posisi ULN Pemerintah aman karena hampir seluruh ULN memiliki tenor jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,9% dari total ULN Pemerintah.

ULN Swasta Tumbuh
 Di sisi lain, Erwin mengungkapkan ULN swasta tumbuh sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. ULN swasta pada Juli 2021 tumbuh rendah sebesar 0,1% yoy, setelah mengalami kontraksi sebesar 0,2% yoy pada Juni 2021.

Ia menjelaskan, pertumbuhan ULN swasta tersebut disebabkan oleh pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan sebesar 1,5% yoy, meski melambat dari 1,7% yoy pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, pertumbuhan ULN lembaga keuangan mengalami kontraksi sebesar 5,1% yoy, lebih rendah dari kontraksi bulan sebelumnya sebesar 6,9% yoy.

Dengan perkembangan tersebut, posisi ULN swasta pada Juli 2021 tercatat sebesar US$207,0 miliar, menurun dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya sebesar US$207,8 miliar dolar AS.

Berdasarkan sektornya, ULN swasta terbesar bersumber dari sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas, dan udara dingin, sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor industri pengolahan, dengan pangsa mencapai 76,6% dari total ULN swasta.

“ULN tersebut masih didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,6% terhadap total ULN swasta,” ujar Erwin.

Erwin menambahkan, Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

ULN Indonesia pada bulan Juli 2021 diklaim tetap terkendali, tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tetap terjaga di kisaran 36,6%, menurun dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya sebesar 37,5%.

Selain itu, struktur ULN Indonesia juga disebut tetap sehat, ditunjukkan oleh ULN Indonesia yang tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang, dengan pangsa mencapai 88,3% dari total ULN.

Erwin mengatakan, dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

“Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pemulihan ekonomi nasional, dengan meminimalisasi risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas perekonomian,” katanya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA