Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

17 Juni 2021|19:49 WIB

BI Lakukan Sejumlah Langkah Antisipasi Tapering The Fed

Gubernur BI juga merencanakan tapering tahun depan.

Penulis: Rheza Alfian,

Editor: Fin Harini

ImageLogo Bank Indonesia. Shutterstock/dok

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menyatakan masih terlalu dini untuk Federal Reserve (The Fed) melakukan tapering off. BI memperkirakan The Fed baru akan melakukan tapering pada 2022.

Meski demikian, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan BI bersama pemerintah sepakat untuk terus melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar dan dampaknya terhadap kenaikan yield surat berharga negara (SBN).

“Dan Bank Indonesia terus akan mengarahkan kebijakan moneter lainnya yaitu suku bunga dan likuiditas serta kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran tetap akan akomodatif untuk mendukung pemulihan ekonomi,” katanya dalam Pengumuman Hasil RDG Bulanan Bulan Juni 2021, Jakarta, Kamis (17/4).

Ia menjelaskan, sebenarnya stabilisasi sudah dilakukan sejak pandemi covid-19 dan terus dilakukan hingga kini. Misalnya saja, sudah ada langkah stabilisasi sejak Februari lalu ketika BI sudah melihat ada kenaikan US Treasury Yield 10 Tahun yang bahkan mendekati 1,9%.

Lebih lanjut, Perry melihat Bank Sentral Amerika Serikat tersebut akan mulai melakukan tapering dengan mengurangi surat berharga atau quantitative easing pada kuartal I/2022. Kemudian, suku bunga acuan akan naik pada 2023.

Ia menjelaskan, dampaknya terhadap emerging market seperti Indonesia bisa secara fundamental maupun secara teknikal. Namun, ia mengatakan pasar memahami kerangka kerja atau framework dari kebijakan moneter dari The Fed.

“Nah implikasinya tentu saja kelihatan akan juga bagaimana pengaruhnya terhadap US Treasury Yield,” ujarnya.

Sebelumnya, diberitakan The Fed memberikan sinyal mempercepat perubahan besar kebijakannya dari proyeksi sebelumnya.

The Fed berencana memajukan perkiraan kenaikan suku bunga acuan ke tahun 2023. Sebelumnya, kenaikan suku bunga diproyeksikan baru akan dilakukan pada tahun 2024.

Dalam hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang dirilis pada Rabu (16/6), pembuat kebijakan The Fed memprediksi biaya pinjaman akan naik di tahun itu.

The Fed juga membuka peluang untuk melakukan pembahasan tapering off setelah krisis kesehatan yang terjadi dalam 15 bulan terakhir dinilai sudah tidak lagi jadi kendala utama perdagangan AS.

Indonesia Tapering
Perry menyatakan, BI juga akan melihat kondisi tahun depan terkait bagaimana perkembangan inflasi, dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, apakah sudah mendekati atau melebihi target yang ditetapkan.

“Tentu saja kami akan mulai dari tapering dulu, injeksi likuiditas kami kurangi dan baru kemudian langkah-langkah selanjutnya kalau memang betul-betul sudah kami meyakini, baru kemudian langkah-langkah mengenai suku bunga,” kata Perry.

Ia menjelaskan jika di AS indikator yang digunakan adalah inflasi dan unemployment. Sementara di Indonesia didasarkan pada perkiraan inflasi dan juga perkiraan pertumbuhan ekonomi makro yang disebut output depth.

Sekadar informasi, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 16-17 Juni 2021 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%

Kondisi likuiditas disebut tetap longgar didorong kebijakan moneter yang akomodatif dan dampak sinergi Bank Indonesia dengan pemerintah dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Hingga 15 Juni 2021, BI telah menambah likuiditas di perbankan sebesar Rp94,03 triliun. BI juga melanjutkan pembelian SBN di pasar perdana sebagai bagian dari sinergi kebijakan BI dan pemerintah untuk pendanaan APBN 2021.

Hingga 15 Juni 2021, pembelian SBN di pasar perdana tercatat sebesar Rp116,26 triliun. Terdiri dari Rp40,80 triliun melalui mekanisme lelang utama dan Rp75,46 triliun melalui mekanisme Greenshoe Option (GSO).

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA