Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

22 Juli 2021|16:27 WIB

BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan 3,50%

Keputusan tersebut sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan karena ketidakpastian pasar keuangan global

Penulis: Rheza Alfian,

Editor: Faisal Rachman

ImageGubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. dok. Antara Foto

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) kembali memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%. Termasuk suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%.

“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21–22 Juli 2021 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers Hasil RDG, Jakarta, Kamis (22/7).

Ia menjelaskan, keputusan tersebut sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan. Apalagi, karena ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah perkiraan inflasi yang rendah dan upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dari covid-19

Saat ini, kata Perry, perekonomian global diperkirakan tumbuh lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya, di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang kembali meningkat seiring penyebaran varian delta covid-19 di sejumlah negara.

Kenaikan pertumbuhan ekonomi tercatat di Amerika Serikat (AS) dan Kawasan Eropa seiring dengan percepatan vaksinasi, serta berlanjutnya stimulus fiskal dan moneter. Begitu pula dengan pertumbuhan ekonomi China yang tetap tinggi.

Prospek ekonomi India dan kawasan ASEAN sendiri, diperkirakan lebih rendah seiring dengan penerapan pembatasan mobilitas untuk mengatasi peningkatan kembali kasus covid-19. 

Selain itu, volume perdagangan dan harga komoditas dunia juga diperkirakan lebih tinggi sehingga mendukung perbaikan kinerja ekspor negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sementara itu, ketidakpastian pasar keuangan global meningkat didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap peningkatan penyebaran covid-19 dan dampaknya terhadap prospek ekonomi dunia. Serta antisipasi terhadap rencana kebijakan pengurangan stimulus moneter (tapering) The Fed.

“Kondisi tersebut mendorong pengalihan aliran modal kepada aset keuangan yang dianggap aman (flight to quality) sehingga mengakibatkan terbatasnya aliran modal dan tekanan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia,” ujar Perry.

Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi domestik diperkirakan lebih rendah dari sebelumnya pasca penyebaran varian delta covid-19. 

Hingga kuartal II/2021, kata Perry, perbaikan ekonomi terus berlanjut, terutama didorong oleh peningkatan kinerja ekspor, belanja fiskal dan investasi non bangunan.

Perkembangan sejumlah indikator dini pada Juni 2021, seperti penjualan eceran dan PMI, mengindikasikan pemulihan ekonomi domestik yang masih berlangsung. 

Selain itu, neraca pembayaran Indonesia (NPI) diperkirakan tetap baik, sehingga mendukung ketahanan sektor eksternal.

Defisit transaksi berjalan kuartal II/2021 juga diperkirakan tetap rendah, didukung oleh surplus neraca perdagangan sebesar US$6,30 miliar. Capaian ini juga meningkat dibandingkan dengan surplus kuartal sebelumnya sebesar US$5,56 miliar.

Kinerja positif tersebut ditopang oleh peningkatan ekspor komoditas utama seperti CPO, batubara, besi dan baja, serta kendaraan bermotor, di tengah kenaikan harga komoditas dunia.

“Perbaikan ekspor terjadi di Sumatra, Sulampua, dan Jawa. Sementara itu, neraca modal diperkirakan mengalami surplus didukung oleh aliran modal masuk dalam bentuk penanaman modal asing dan investasi portofolio,” ujar Perry.

Rupiah Terkendali
Perry menuturkan, dengan langkah-langkah stabilisasi yang dilakukan pihaknya, pergerakan nilai tukar rupiah relatif terkendali, di tengah kembali meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global.

“Nilai tukar rupiah pada 21 Juli 2021 melemah 0,29% secara point to point dan 1,14% secara rerata dibandingkan dengan level akhir Juni 2021,” cetusnya

Ia menjelaskan, perkembangan nilai tukar rupiah tersebut dipengaruhi penyesuaian aliran modal keluar dari negara berkembang yang didorong oleh perilaku flight to quality, di tengah pasokan valas domestik yang masih memadai.

Dengan perkembangan tersebut, rupiah sampai dengan 21 Juli 2021 mencatat depresiasi sekitar 3,39% (year to date/ytd) dibandingkan dengan level akhir 2020. 

Kondisi ini relatif lebih rendah dibandingkan depresiasi dari mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti Filipina, Malaysia, dan Thailand.

“Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar, melalui efektivitas operasi moneter dan ketersediaan likuiditas di pasar,” ucap Perry.

Lebih lanjut, inflasi dinilai juga tetap rendah. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2021 tercatat deflasi 0,16% (month to month/mtm) sehingga inflasi IHK sampai Juni 2021 mencapai 0,74% ytd. Secara tahunan, inflasi IHK tercatat 1,33% (year on year/yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,68% yoy.

Perry bilang, inflasi inti terjaga rendah sejalan dengan pemulihan permintaan domestik yang masih terbatas, stabilitas nilai tukar yang terjaga. Juga kebijakan BI yang konsisten mengarahkan ekspektasi inflasi pada kisaran target.

Inflasi kelompok volatile food dan administered prices, sambungnya, melambat. Hal ini sejalan dengan berakhirnya pola musiman hari besar keagamaan nasional (HBKN) dan terjaganya pasokan.

Ia mengatakan, pihaknya tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah melalui Tim Pengendali Inflasi (TPI dan TPID). Termasuk menjaga pasokan selama implementasi kebijakan pembatasan mobilitas.

“Inflasi diperkirakan akan berada dalam kisaran sasarannya 3,0 plus minus 1% pada 2021 dan 2022,” ujarnya.

 

 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA