Selamat

Senin, 25 Oktober 2021

17 September 2021|21:00 WIB

Berseminya Bisnis Camilan Jamur Enoki

Pada bisnis kuliner yang utama menentukan adalah resep cita rasa

Penulis: Zsasya Senorita,

Editor: Dian Hapsari

ImageJamur enoki crispy, produk dari UMKM Osy Snack tersedia dalam empat rasa seaweed, chilli, barbeque, keju. Dokumentasi Pribadi

JAKARTA – Berapa banyak varian panganan baru, yang Anda lihat di beranda media sosial beberapa tahun terakhir ini? Sejak pandemi memukul, kreativitas masyarakat menciptakan produk panganan atau kudapan baru sepertinya kian meningkat. 

Namun pernahkah Anda membeli atau melihat produk jamur enoki crispy

Camilan yang belum banyak dijual UMKM Indonesia ini, menjadi salah satu ide usaha seorang jurnalis yang mencari peruntungan pada bisnis kuliner.

Sella Panduarsa, ibu dari dua anak ini mengaku idbe awal bisnis camilan berbahan dasar jamur, datang dari pasangannya. Enoki dipilih karena belum banyak pebisnis kuliner lain yang memproduksi panganan sejenis.

“Enoki crispy kalau di resto harganya mahal. Jadi kami ciptakan yang harganya lebih ekonomis. Sehingga orang enggak perlu ke resto lagi, beli di kita aja,” ungkap Sella dalam perbincangan dengan Validnews, Rabu (14/9).

Berproduksi sejak 2019, perempuan 34 tahun ini mengaku bisa meraih peningkatan hingga 500% atau lima kali lipat pada awal 2020, dibanding rata-rata penjualan tahun 2019. Dari 50 box per bulan menjadi 250 box. Ia bahkan tidak menyangka, produk yang diberi nama Osy Snack tersebut dapat terjual hingga 150 box per bulan sejak awal rilis dan ditawarkan ke kerabat serta rekan kerja.

“Langsung booming banget sih, kita pasarin lewat WhatsApp dan Instagram, dari mulut ke mulut juga karena waktu itu kantor masih beroperasi sebelum pandemi,” jelas Sella.

Sejak awal, ia menggunakan tipe pemasaran daring. Di antaranya melalui WhatsApp dan Instagram @osy.snack yang sudah dibuat sejak awal produk dipasarkan. Selain itu, untuk mendongkrak penjualannya, Sella juga memberi promosi gratis ongkir saat pembatasan mobilitas mulai diterapkan pemerintah untuk menekan penularan covid-19. 

Usahanya ini pun mendapatkan dukungan dari salah seorang menteri yang memborong 50 paket pada Lebaran 2020. Dari sini, dia bisa merekrut tiga orang pekerja lepas tambahan. Namun pewarta sektor ekonomi dan bisnis ini tak mau jika pihak lain menyebut kesuksesannya dikaitkan dengan luasnya relasi sebagai pekerja media.

“Bisa dibilang itu puncak kejayaan kita lah gitu” ujar Sella sambil tertawa mengingat masa itu.

Meski tidak dipungkiri pangsa pasar luas terbentuk salah satunya dari relasi yang dimiliki, Sella menegaskan bahwa pembawaan diri seseorang juga menjadi penentu kesuksesan bisnis yang dibangun. Bila citra seseorang sudah cukup buruk atau tidak ramah, kontak banyak pun tidak bisa menjamin produk terjual atau dibeli oleh orang yang mengenal kita. 

Selain bisnis, Osy Snack diakui telah turut memberinya pelajaran kehidupan.

“Konsumen beli produk kita dengan beberapa alasan. Ada yang memang karena enak. Tapi menurut aku alasan paling besar adalah they buy our personality,”katanya.

“Kalau Osy Snack sampai dipromosikan Pak Menteri, Bu Dirjen itu kan juga karena ada hubungan yang dibangun sejak lama. Ada juga yang beruntung saja kebetulan ketemu terus minta foto dan testimoni,” sambungnya.

Merintis Sendiri
Membangun bisnis kuliner bukan perkara mudah. Begitu halnya dengan enoki crispy. Pada awal, Sella melakukan rangkaian research and development (R&D), dengan percobaan produksi sampai 50 box dengan biaya Rp1 juta. Sella ingin menciptakan produk yang dianggap terbaik dari segi kualitas, rasa, tekstur, dan ketahanan simpan. Proses ini memakan waktu dua pekan karena dikerjakan setiap hari, sampai dia menemukan resep yang paling pas.

“Memang yang paling utama itu menentukan resep dulu ya. Kalau rasanya sudah oke, baru kita menentukan yang lain,” pesannya.

Hasil uji coba produksi berlanjut ke urusan kemasan. Sebelum menggunakan kemasan kotak atau boks thin wall, Sella memakai kemasan plastik bentuk pouch namun dirasa kurang pas terutama bagi konsumen kelas menengah atas.

Modal yang dirogoh dari penghasilan bersama suami, kembali bertambah untuk produksi awal penjualan sekitar Rp750.000. Sebagaimana UMKM pada umumnya, Sella mengaku banyak mengandalkan diri sendiri dan suami sebagai rekan bisnis untuk menjalankan Osy Snack.

“Kemudian, sebagaimana UMKM lainnya, yang promosi kita, yang produksi kita, packing kita, kurir juga kita. Hampir semua dikerjakan sendiri,” ujar Sella.

Tantangan lain yang harus dihadapi adalah pencarian bahan baku yang berkelanjutan dengan harga bersaing. Tahap ini penting agar harga jual pada pembeli akhir tidak menjadi mahal dan tetap memberi keuntungan bagi pengusaha.

Di sisi ini, dia membocorkan sedikit tips mencari bahan baku produk makanan, yakni bekerja sama dengan beberapa distributor. Dengan demikian, dia bisa selalu mendapat beragam tawaran harga dan tidak terpaksa membeli bahan pada harga mahal di satu distributor. Apalagi, mencari jamur enoki di Indonesia juga ternyata tidak mudah. 

Jamur jenis ini tidak tumbuh di Tanah Air sehingga terpaksa selalu impor. Sella pun mendatangi sejumlah distributor jamur enoki di Indonesia yang diimpor dari China, alamatnya didapat dari kemasan jamur enoki yang dijual di swalayan.

“Ternyata, harga jamur enoki itu juga fluktuatif. Bisa tiba-tiba tinggi sekali, bisa juga murah banget,” terangnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Sella menentukan harga jual yang cukup aman untuk tetap menghasilkan margin keuntungan meski harga jamur sedang melonjak, yakni senilai Rp25.000 per boks. 

Bagian lain yang cukup memakan biaya produksi saat ini adalah kemasan. Sejumlah orang dari komunitas UMKM tingkat kecamatan yang diikutinya, memberi saran agar Osy Snack berganti kemasan yang lebih menarik. Ia kemudian kembali menggunakan pouch plastik namun kali ini full cover dengan logo dan keterangan produk. 

Sella mengaku tersentil karena perkara kemasan juga sudah sering dibahas Presiden Jokowi saat memberi saran kepada pelaku UMKM. Kemasan menjadi wajah atau tampilan utama yang konsumen lihat. Demi meningkatkan penjualan dan memoles citra brand, ia pun rela merogoh kocek sedikit lebih dalam untuk kemasan baru tersebut. 

Tak lupa, ia menyarankan calon pengusaha mikro dan kecil untuk bergabung dengan komunitas agar mendapat akses pelatihan dan permodalan yang kerap disediakan pemerintah. Dia pun bergabung dengan komunitas UMKM binaan kecamatan dan mendapat pelatihan mulai dari produksi pangan, pengemasan, sampai pemasaran di e-commerce. Kiat-kiat mengembangkan usaha untuk naik kelas. 

Bukan Terdampak Pandemi
Tidak seperti kebanyakan UMKM yang melemah akibat pandemi covid-19, Sella mengaku usahanya ini mulai turun akibat isu bakteri Listeria monocytogenes pada jamur enoki dari produsen Green Co Ltd, Korea Selatan. Meski pasokan bahan baku jamur Osy Snack berasal dari China, citra jamur enoki di Tanah Air sudah kadung tercemar akibat isu tersebut.

Sella pun bergegas mengonfirmasi kebenaran isu tersebut ke Kementerian Pertanian. Dari informasi yang didapat, jamur enoki asal China tidaklah bermasalah. Bahkan mereka menyatakan bahwa jamur berbakteri pun masih aman dikonsumsi bila diolah pada suhu 100 derajat celsius.  

“Tetapi publik tidak bisa percaya semudah itu. Jadi isu itu berdampak sekali pada penjualan Osy Snack,” sesalnya.

Penjualan Sella sejak isu bakteri Listeria monocytogenes pun merosot hingga menjadi 50 boks per bulan, dari sebelumnya bisa mendapat pesanan 20–50 boks per hari.

Mencegah produk jualannya bercitra buruk akibat isu bakteri Listeria monocytogenes, dia sempat memutuskan untuk menghentikan sementara produksi dan penjualan enoki crispy. Akibat berhenti beroperasi sekira satu bulan, menyebabkannya rugi maksimal Rp6,25 juta.

Untungnya, pasca vakum, jumlah order yang masuk cukup banyak setelah isu bakteri reda. Meski demikian, penjualan masih belum selaris sebelum isu negatif itumerebak.

Mengatasi masalah penurunan penjualan, Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad memberi saran kepada UMKM untuk sering menciptakan variasi produk “Memang pilihan produk itu akan menjadi strategi marketing sendiri,” kata Tauhid, Kamis (16/9).

Bila pelaku UMKM mengharapkan usaha yang berkelanjutan atau bertahan dalam waktu lama, ia menyarankan pengusaha menciptakan jenis produk yang permintaannya tinggi, berkualitas, dan harganya bersaing. Kemudian, berada pada pasar kompetisi menengah ke atas.

“Kalau menengah ke bawah dia mampunya beli sesekali, kalau sudah pernah ya sudah,” terang Tauhid.   

Ia pun mengamini bahwa persaingan bisnis di sektor kuliner tidaklah mudah. Pasalnya produk kuliner kerap mudah direplikasi. Oleh karena itu, Tauhid berpesan agar pelaku UMKM memastikan kualitas produknya sehingga mampu membangun kepercayaan konsumen.

Ditegaskan, membangun UMKM terutama di bidang kuliner, hanya bisa dijalani orang-orang yang punya kemampuan wirausaha yang kuat, pantang menyerah, dan selalu berkarya. Pelaku UMKM pun diminta untuk selalu peka terhadap tren dan permintaan terkini.

“Kecuali produk-produk yang demand tinggi misal beras, kebutuhan yang akan orang beli secara berulang. Ketimbang jual makanan yang bukan kebutuhan pokok, mayoritas penjualannya lama-lama turun,” pungkasnya.


Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA