Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

30 April 2021|13:01 WIB

Bank Indonesia: Stabilitas Sistem Keuangan Terjaga Sepanjang 2020

Respons kebijakan semester II/2020 dinilai lebih baik dibandingkan pada semester I/2020

Penulis: Rheza Alfian,

Editor: Nadya Kurnia

ImageKaryawan melayani pembelian uang dolar Amerika Serikat (AS) di sebuah tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (20/11/2020). ANTARAFOTO/Puspa Perwitasa

JAKARTA - Stabilitas sistem keuangan Indonesia dinilai terjaga di tengah tekanan pandemi covid-19 sepanjang 2020. Terjaganya ketahanan sektor keuangan diklaim sebagai buah sinergi Pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas terkait dalam melaksanakan tanggung jawab bersama di sektor keuangan.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono mengatakan berbagai sinergi kebijakan dengan langkah luar biasa terkait pemulihan ekonomi nasional alias PEN, telah dilakukan untuk mengatasi dampak buruk pandemi terhadap perekonomian dan sistem keuangan.

Respons kebijakan yang dilakukan telah mampu menopang ekonomi domestik pada semester II/2020 secara lebih baik dibandingkan pada semester I/2020, dengan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan yang terjaga.

"Stabilitas sistem keuangan yang terjaga tercermin dari pasar keuangan yang relatif stabil serta ketahanan perbankan yang tetap terjaga, baik dari sisi permodalan, likuiditas, maupun profitabilitas," katanya dalam keterangan tertulis peluncuran Buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSK) No. 36 “Sinergi Kebijakan Menjaga Ketahanan Sistem Keuangan dan Mendorong Intermediasi untuk Membangun Optimisme Pemulihan Ekonomi Nasional, Jakarta, Jumat (30/4).

Lebih lanjut, ketahanan perbankan di 2020 dinilai masih kuat didukung oleh kebijakan moneter dan makroprudensial yang akomodatif, kebijakan restrukturisasi kredit, serta kebijakan akomodatif otoritas lainnya.

Indeks Stabilitas Sistem Keuangan masih berada dalam zona normal. Pembiayaan yang disalurkan IKNB sepanjang 2020 menurun, namun pada akhir paruh kedua 2020 mulai menunjukkan tanda perbaikan, sementara ketahanan IKNB di 2020 tetap terjaga.

Sementara itu, kontraksi penjualan korporasi mulai mereda didukung perbaikan harga dan permintaan komoditas, serta didukung oleh kemampuan bayar korporasi yang mulai membaik.

"Tekanan terhadap kinerja rumah tangga menurun seiring mulai meredanya tekanan pada korporasi. Namun konsumsi tertunda seiring dengan mobilitas yang masih terbatas," kata Erwin.

Sinergi kebijakan Pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas terkait ditempuh dalam kerangka Komite Stabilitas Sistem Keuangan atau KSSK melalui perumusan “Paket Kebijakan Terpadu untuk Peningkatan Pembiayaan Dunia Usaha dalam rangka Percepatan Pemulihan Ekonomi” secara terkoordinasi.

Bank Indonesia menempuh berbagai bauran kebijakan secara terukur. Pada sisi kebijakan makroprudensial, Bank Indonesia melakukan publikasi Asesmen Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK), pelonggaran Loan to Value (LTV) Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Uang Muka Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), reaktivasi Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) secara bertahap guna mendorong pertumbuhan kredit perbankan.

Sementara itu, Erwin bilang, untuk meningkatkan akses pembiayaan kepada UMKM, Bank Indonesia juga akan memperluas cakupan pembiayaan UMKM, melalui penerbitan ketentuan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial alias RPIM.

"Ke depan, koordinasi dan sinergi kebijakan akan semakin diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta untuk implementasi berbagai kebijakan terpadu dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi," ujarnya.

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA