Selamat

Kamis, 05 Agustus 2021

25 Mei 2021|16:18 WIB

Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan 3,50%

Bank Indonesia juga menahan suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%

Penulis: Rheza Alfian,

Editor: Nadya Kurnia

ImageFoto Bank Indonesia/BI/Suku Bunga/BI7DRR/Antarafoto

JAKARTA - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 24-25 Mei 2021 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%.

Tidak hanya itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga menahan suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 24-25 Mei 2021 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%," katanya dalam Konferensi Pers Pengumuman Hasil RDG, Jakarta, Selasa (25/5).

Perry menjelaskan, keputusan tersebut konsisten dengan perkiraan inflasi yang tetap rendah, serta upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mempercepat upaya pemulihan ekonomi.

Bank Indonesia juga terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial akomodatif serta mempercepat digitalisasi sistem pembayaran Indonesia untuk memperkuat upaya pemulihan ekonomi nasional.

Adapun langkah yang ditempuh seperti melanjutkan kebijakan nilai tukar rupiah untuk menjaga stabilitas nilai tukar yang sejalan dengan fundamental dan mekanisme pasar.

Selanjutnya, melanjutkan penguatan strategi operasi moneter untuk memperkuat efektivitas stance kebijakan moneter akomodatif.

Kemudian, melanjutkan kebijakan transparansi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) perbankan dengan penekanan pada komponen-komponen SBDK (cost of fund, overhead cost, dan profit margin) dan masih lambatnya penurunan suku bunga kredit baru.

Lalu, memperkuat kebijakan makroprudensial akomodatif melalui penyempurnaan kebijakan rasio kredit UMKM menjadi kebijakan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) 

Tidak hanya itu, juga menurunkan batas maksimum suku bunga Kartu Kredit dari 2% menjadi 1,75% per bulan dalam rangka mendukung transmisi kebijakan suku bunga dan efisiensi transaksi nontunai, berlaku sejak 1 Juli 2021.

Lalu, memperluas pendalaman pasar uang melalui percepatan pendirian Central Counterparty (CCP) dan standardisasi transaksi repo yang dapat dikliringkan melalui CCP.

Kemudian, memfasilitasi penyelenggaraan promosi perdagangan dan investasi serta melanjutkan sosialisasi penggunaan Local Currency Settlement (LCS) bekerja sama dengan instansi terkait.

Perry menyatakan Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), termasuk melalui implementasi Paket Kebijakan Terpadu KSSK, guna mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

"Koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait juga terus diperkuat untuk mendorong penurunan suku bunga kredit perbankan dan meningkatkan kredit/pembiayaan kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas," katanya.

Sudah Diprediksi

Sebelumnya, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky berpandangan, dengan berbagai indikator yang ada memang seharusnya Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan.

Menurutnya, berbagai faktor mempengaruhi perbaikan kondisi ekonomi dalam beberapa waktu belakangan.

Mulai bergulirnya vaksin, stimulus masif dari pemerintah, dan pembukaan aktivitas ekonomi secara perlahan berkontribusi terhadap hidupnya kembali aktivitas ekonomi domestik. Walaupun demikian, risiko kesehatan dari covid-19 masih terus membayangi.

"Tercermin dari angka inflasi, relaksasi dari berbagai kebijakan pembatasan sosial dan bulan Ramadan nyatanya belum mampu mengerek permintaan agregat ke level normal," katanya kemarin.

Dari sisi eksternal, terlepas dari derasnya arus modal masuk di awal Mei 2021, yang sebagian besar didorong oleh sentimen positif terhadap prospek ekonomi domestik, kondisi ini cenderung bersifat sementara.

Tidak hanya itu, juga masih ada berbagai isu seperti meningkatnya risiko kesehatan akibat mutasi baru virus covid-19 dan lambatnya 

proses vaksinasi, ditambah dengan tekanan ekonomi dari kemungkinan lockdown 

negara mitra dagang Indonesia serta potensi tapering-off oleh AS menambah kompleksitas terhadap agenda pemulihan di masa mendatang. 

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER