Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

BERITA

05 April 2021|21:00 WIB

Tugas Berat Di Tanah Pusara

Penggali kubur sering kali menjadi pelampiasan emosi keluarga jenazah covid-19
ImagePetugas gali kubur, Sannur (55), saat sedang membersihkan makam covid-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (4/1). \Validnews/Maidian Reviani

JAKARTA – Sannur (55 tahun) bergegas menghampiri teman-temannya usai menutup panggilan telepon. Mereka mesti cepat menyiapkan liang sebelum hari beranjak sore. Sebab, satu jenazah covid-19 segera diantarkan langsung dari Rumah Sakit (RS) Cengkareng, Jakarta Barat.

Lubang berukuran 2,5 x 1,5 meter persegi yang disiapkan itu sebenarnya sudah terisi. Sejak Januari 2021 Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, khusus unit Muslim sudah penuh. Jadi, keluarga jenazah covid-19 hanya punya satu opsi; penguburan dengan sistem tumpang. Sistem ini dibolehkan asal masih satu keluarga, dan harus berjarak tiga tahun dengan jenazah yang ingin ditumpangi.

Karena lahan sudah penuh dan banyak dialihkan ke TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, kerja Sannur tak lagi seberat beberapa bulan lalu. Dalam seminggu paling hanya satu sampai tiga kali saja ada penguburan jenazah covid-19. 

Dulu situasinya berbeda. Bapak empat anak ini harus bekerja dari pukul 06.00 WIB hingga paling larut pukul 22.00 WIB. Pun para penggali kubur tak pernah libur. Dari pagi sampai malam, ambulans tiada henti datang membawa jenazah. Kira-kira ada 50–60 jenazah covid-19 yang harus dimakamkan saban harinya. 

Padahal sebelum pandemi covid, Sannur sudah bisa kembali ke rumah sekitar pukul 16.00 WIB. "Pokoknya nyaris tidak ada istirahat. Jenazah terus berdatangan, ambulans antre," kata dia kepada Validnews, Kamis (1/4).

Meski sudah 10 tahun jadi penggali kubur, perasaan Sannur tetap saja campur aduk begitu tahu TPU Tegal Alur dijadikan lokasi yang ditunjuk untuk penguburan jenazah pasien positif corona. Sannur takut dan khawatir tertular virus covid-19. Ia takut membawa virus ke rumahnya yang tidak jauh dari TPU, yakni di Jalan Lingkungan III, Tegal Alur, Jakarta Barat.

"Ketakutan saya paling besar adalah orang-orang di rumah. Jadi bikin takut dan cemas saat tahu akan nguburin mereka yang terpapar covid," jelasnya.

Dia juga tak mau dipergunjingkan tetangga. Sannur tidak ingin dianggap menakutkan karena pekerjaannya itu. Apalagi cukup banyak warga di sekitar TPU Tegal Alur yang bersikap menolak ketika tahu di lingkungan mereka akan digunakan untuk pemakaman covid-19. Namun, sinisme sebagian warga tentu tak bisa dihalau. 

"Benar aja, orang awal-awal memandang kita kayak sinis gitu. Pada takut kayaknya ketularan lah apa lah. Padahal kita kalau pulang juga memastikan diri dulu, sudah bersih pokoknya. Jadi biarin dah," pungkasnya.

Bagi Sannur, tantangan terberat saat menguburkan jenazah covid-19 adalah mesti menggunakan alat pelindung diri (APD) sekali pakai. Dia dan teman-teman kerjanya diwajibkan memakai hazmat, kacamata, sarung tangan, sepatu boots, dan masker.

Saat matahari sedang terik-teriknya yang ia rasakan adalah seperti badan terbakar. Ketika hujan mengguyur pun, badan akan terasa sangat berat untuk melangkah, karena APD itu terasa berat ketika basah. 

Pemakaman juga harus tetap berlanjut meski hujan. Karena jika terhenti, bisa terjadi penumpukan jenazah.

Tempat Pelampiasan
Tantangan berat lainnya selama pandemi adalah saat harus menghadapi sikap keluarga jenazah. Cukup banyak pihak keluarga yang nekat turun dari kendaraan saat mengantarkan jenazah covid-19.

Belum lagi, ketika mendapati ada anggota keluarga yang ‘ngotot’ ingin membuka peti jenazah. Cerita keluarga masih menganggap bahwa yang akan dikubur tidaklah positif covid-19, bukanlah satu atau dua orang saja. 

Mereka, penggali kubur sering kali menjadi pelampiasan kekesalan keluarga jenazah . Kerap persoalan mengemuka soal papan nisan. Pemprov DKI Jakarta menyediakan nisan untuk pemakaman covid-19 sangatlah terbatas.

Akan tetapi, dari semua tugas-tugas yang ia kerjakan selama pandemi, hal yang paling membekas dibenaknya adalah pernah terpeleset dan jatuh ke liang kubur. Apesnya, saat terjatuh, posisi Sannur memeluk peti jenazah. 

Sannur sempat khawatir. Karena setahunya peti jenazah covid-19 saat akan dikuburkan tidak boleh dipegang menggunakan tangan. Hanya boleh diturunkan menggunakan tali tambang. 

"Habis itu dibilang sama orang-orang 'jangan deketin si Sannur, ada yang baru meluk peti covid'. Saya tahu itu cuma bercanda, tapi ya tetap saja kepikiran," tuturnya.

Meski demikian, pria paruh baya ini mengaku ikhlas dengan pekerjaannya. Di benaknya, pekerjaan ini sangat mulia karena mengantarkan mereka beristirahat di tempat terakhir. 

Terkait insentif yang pernah tertunda dan kini tidak dilanjutkan lagi oleh pemerintah, Sannur tidak ambil pusing. Dia masih bersyukur masih bisa bekerja sembari beramal. Namun, ada satu yang mengganjal hatinya. Apresiasi terhadap mereka minim sekali.

“Saya mewakili teman-teman di sini, inginnya sih ada ucapan terima kasih. Kami misalnya dikumpulkan di kantor, terus dibilang ‘terima kasih ya kawan-kawan, ayo kita semangat terus’. Sekadar ucapan terima kasih saja,” terangnya. 

Petugas yang mengenakan APD memakamkan jenazah dengan protokol COVID-19 di TPU Tegal Alur, Jakarta, Selasa (29/12/2020). Pemprov DKI Jakarta menyiapkan lahan pemakaman di Rorotan sebagai antisipasi penuhnya TPU khusus COVID-19 di Pondok Ranggon dan Tegal Alur karena masih tingginya jumlah kematian akibat COVID-19. ANTARAFOTO/Wahyu Putro A

Buat mereka, vitamin adalah hal wajib dikonsumsi. Rekan Sannur, Wadih, juga terus mengkonsumsi ramuan herbal untuk tetap menjaga staminanya. Ia mengkonsumsi jahe, kunyit, dan bahan herbal lainnya. 

Dia percaya dengan kondisinya yang selalu sehat maka orang-orang di sekitar rumah tidak akan takut dan cemas. Kondisi yang sehat juga akan makin menepiskan omongan para tetangga yang kerap meragukan kesehatan Wadih karena pekerjaannya.

Pada awal masa pandemi, Wadih memang sempat dikucilkan oleh teman-teman di lingkungannya usai mereka mengetahui dirinya bertugas untuk menguburkan jenazah covid-19.

“Dibilang jangan temenin, dia habis menguburkan jenazah covid-19, entar katanya ketularan,” pungkas Wadih. 

Bahkan, sambung Wadih, ia pun sebulan awal bertugas menjadi pengubur jenazah covid-19, juga harus tidur terpisah dengan istri dan anak. Keluarga tidak mau tidur bersama, lantaran tak ingin terjadi hal-hal tak terduga.

“Saya tidur misah. Pokoknya awal-awal berat banget buat saya menjalaninya. Karena saya juga ngerasain kayak gejala-gejala gitu, tapi itu mungkin karena saking takutnya saja, makanya ngerasanya ini itu,” pungkasnya.

Wadih juga sempat galau saat mengetahui TPU Tegal Alur akan menerima jenazah covid-19. Rasa bimbang itu terjadi, lantaran ia belum paham bahwa jenazah covid-19 ternyata tidak dapat menularkan penyakit ke petugas penguburan. Ia juga tidak tahu bahwa jenazah-jenazah itu ternyata sudah dibungkus plastik dan dimasukkan ke dalam peti.

"Panik, saya parno banget pas tahu jenazah covid-19 mau dimakamkan di sini. Apalagi warga di sini awalnya juga menentang adanya penguburan covid," kata dia.

Rawan Terpeleset
Pada awal pandemi, hampir 50 jenazah dalam sehari harus dikuburkan. Hari hujan, atau terik panas, harus dijalani. Tanah yang licin rawan membuat petugas terpeleset. Ia pun sempat menjadi salah satu korbannya. Saat sedang mengangkut peti ia terpeleset, kakinya pun akhirnya tertimpa peti. "Bagusnya enggak sampai ada tindakan serius. Karena beruntung, saat itu agak nahan," kata dia.

Di TPU Tegal Alur kata Wadih terdapat delapan regu yang masing-masing terdiri dari empat orang. Regu tersebut beroperasi secara bergantian dalam memakamkan jenazah covid-19, baik siang maupun malam. Semua regu merasa kewalahan awalnya. Mereka masih memakai cara manual, yakni dipacul. 

"Bisa 2-3 jam untuk buka satu liang pakai pacul. Coba bayangkan aja. Tapi setelah sebulanan, akhirnya dibantu lah kami pakai alat. Jadi agak meringankan," pungkasnya. 

Wadih mengatakan, bisa saja mengambil jatah cutinya untuk beristirahat. Tapi, pria berusia 41 tahun ini tidak mau egois. Ia tidak mau melihat teman-temannya kesusahan sendiri. Untuk itu, dia berharap pandemi segera berakhir.

Terhadap tanah makam ini, Kepala Satuan Pelaksana Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tegal Alur, Wawin mengatakan, di tanah seluas 5,4 juta hektare (ha) itu terdapat sekitar 4.300 makam covid-19 di unit muslim. Ada juga 800 makam covid-19 di unit non-muslim. 

Jumlah personel yang ditugaskan untuk memakamkan jenazah terkait covid-19 di TPU Tegal Alur mencapai 70 orang. Sebanyak 37 orang ditempatkan di unit muslim, sedangkan 33 berada di unit non-muslim.

"Muslim dibagi delapan kelompok. Non-muslim enam grup. Tapi di muslim sudah penuh," kata dia kepada Validnews, Kamis (1/4).

Guna memastikan petugas penguburan tetap sehat. Pihaknya selalu menyediakan obat-obatan bagi penggali. Selain itu, pihaknya juga dibantu oleh para donatur, yang silih berganti mengirimkan makanan, obat-obatan maupun penunjang kesehatan lainnya. 

Beberapa kali tes cepat dan tes usap juga sudah diterapkan bagi para petugas makam. "Terakhir kita mengadakan vaksin semua seminggu yang lalu. Itu vaksin pertama. Yang kedua kalau enggak salah nanti tanggal delapan (8 April)," terangnya. (Maidian Reviani)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA