Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

WIRAUSAHA

01 April 2021|21:00 WIB

Meraup Laba Dari Santapan Balita

Mereka yang rajin mengritik, biasanya menjadi pelanggan terlama
ImageIlustrasi makanan boks. Pixabay

JAKARTA – Beberapa tahun terakhir, bisnis katering menjamur di Indonesia, khususnya di Jabodetabek. Beragam jenis menu disajikan. Ada yang menjanjikan menu khusus diet tertentu dengan bahan-bahan baku khusus, lengkap dengan perhitungan kalori dari ahli gizi. Ada pula yang menyajikan menu sederhana dengan harga murah.

Layanan katering itu dijual dengan rentang harga bervariasi. Hal yang dominan biasanya sepaket menu makan siang dihargai kisaran Rp40.000–60.000. Semakin lengkap varian lauk dan sayur yang disajikan, harga kian mahal. Konsumen juga diberi pilihan untuk berlangganan per minggu, bulanan, atau hanya membeli satu menu untuk satu hari.

Umumnya, para pebisnis katering memanfaatkan kesibukan konsumen yang menyita waktu untuk memasak di rumah. Rata-rata konsumen yang berlangganan jasa katering pun berasal dari segmen pekerja kantoran yang sehari-hari mesti bekerja delapan jam, dan terkadang kelewat sibuk untuk sekadar mencari restoran saat jam makan siang.

Namun tidak demikian dengan Neura Azzahra. Dia justru memanfaatkan keterbatasan waktu para ibu bekerja—atau working mom—yang tak sempat memasak untuk sang buah hati di rumah, untuk membuka jasa katering khusus makanan anak-anak.

Perempuan asal Tangerang itu telah merintis Bebitang, bisnis kateringnya, sejak 2010. Bisnis semula kecil ini telah berhasil meraup puluhan juta rupiah per bulannya, kini. Bermodalkan bekal pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Neura yang memahami kebutuhan asupan gizi, akhirnya meracik makanan sendiri dan mencoba peruntungannya.

Ihwal memulai bisnis, diawali dengan niat baik membantu adiknya sendiri, yang juga seorang ibu bekerja. Sang adik kebingungan mencari katering harian khusus anak-anak.  

"Adik saya termasuk ibu yang concern untuk memberi makanan non-MSG untuk anaknya. Terus dia cari katering anak harian tapi tidak ada. Akhirnya, saya coba bikin sendiri karena pasti banyak ibu-ibu bekerja lain yang punya kesulitan yang sama," cerita Neura kepada Validnews pada Rabu (31/3).

Neura mengaku tak membutuhkan modal besar saat merintis bisnis ini. Ibu beranak satu ini hanya memerlukan peralatan dapur secukupnya, ia menyiapkan bahan dan memasak dengan bantuan asisten.

Kateringnya pun tak langsung berkembang pesat. Pertumbuhannya sedikit demi sedikit, namun pasti. Bahkan, ia pernah hanya melayani tak sampai sepuluh pelanggan per hari. Meski demikian, Neura tak memusingkan jumlah konsumen dan terus meyakinkan diri bahwa Bebitang bakal maju.

Kesabaran dan ketekunannya mulai membuahkan hasil. Konsep kateringnya yang unik cukup mencuri keingintahuan banyak orang. Dan akhirnya secara bertahap, pesanan Bebitang pun kian banyak.

Melihat pertumbuhan usahanya yang cukup pesat kala itu, Neura tertantang untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Ia berinisiatif membuat produk frozen food. Nugget, sosis, dan kroket nasi, adalah beberapa varian menu frozen yang disajikan Bebitang.

"Ibu bekerja kan pengin yang praktis. Jadi kita pengin membantu para ibu ini karena seperti tagline-nya Bebitang, 'Dengan Bebitang, mama bisa me time’," terangnya.

Produk-produk disematkannya harga yang terjangkau bagi segmen ibu-ibu. Ada harga termurah Rp5.000 (kaldu frozen) dan harga termahal Rp75.000 (nugget ayam kampung/20 pcs). Adapun lauk pauk beku dijual di kisaran Rp25.000 hingga Rp45.000/bungkus.

Katering harian dibedakan menjadi dua kategori. Untuk bayi terdiri dari tiga menu, sedangkan anak terdiri empat menu. Adapun satu kali pengantaran untuk dua kali makan, yakni berisi makan siang dan malam beserta selingan. Makanan akan tiba di tempat tujuan maksimal pukul 12.00 siang.

Harganya sendiri berkisar Rp110.000 per hari untuk anak dan Rp100.000 per hari untuk bayi. Harga sudah termasuk biaya pengiriman. Katering harian anak memiliki menu yang berbeda tiap harinya. Semua mengandung bintang empat, yaitu karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan sayuran.

Akan tetapi, berbeda dengan frozen food yang bisa menjangkau seluruh wilayah, katering harian masih terbatas di daerah Tangerang dan sekitarnya. Adapun frozen food produksi Bebitang dapat bertahan hingga dua bulan, asal dalam keadaan beku.

Dengan rentang harga yang bersaing juga bersahabat, ditambah jenis produk yang bervariasi dan dapat dikonsumsi untuk anak mulai dari usia tujuh bulan, usia di mana bayi dapat mulai mencerna makanan halus selain susu. Bebitang berhasil menarik minat banyak konsumen.

Ketika skala konsumen Bebitang semakin besar, wanita kelahiran 1977 ini memperketat aspek kebersihan dan terus memantau perkembangan produknya. Tak jarang pula, Neura mencari tahu tren panganan yang sedang ramai dan digandrungi pasar dengan berselancar di internet. Ia juga tak segan untuk menyeleksi produk yang kurang diminati

Kini, ada belasan pekerja yang didominasi oleh perempuan, di Bebitang. Mereka terbagi menjadi admin yang sekaligus menjabat sebagai staf marketing dan akunting, juga staf produksi yang berurusan langsung di dapur. Sementara khusus untuk kurir, ia mempekerjakan laki-laki.

"Kita pakai kurir sendiri biar cepat karena dari dulu kan kita mulai belum ada ojek online, jadi kita memang sudah menyiapkan kurir sendiri," tandasnya.

Pasang Surut
Sebelas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk merintis suatu usaha. Sekarang, bisnis makanan anak yang ditekuninya tak hanya tersebar di wilayah Jabodetabek saja. Namun juga diperdagangkan sampai ke seberang pulau. Tepatnya, masuk ke frozen market di Medan hingga Kalimantan.

Kritikan yang diterima tak serta merta menjatuhkan semangatnya. Neura juga tak langsung menelannya mentah-mentah dan sering menyaring saran yang disampaikan pelanggan. Itu menjadi sebuah masukan demi bisnisnya.

"Biasanya yang sering komplain itu justru jadi pelanggan terlama kami. Saat mereka komplain, alhamdulillah kita usahakan untuk selalu cepat handing dengan baik, sehingga memuaskan konsumen," ujar Neura.

Namun sayang, belum sempat Neura memanfaatkan potensi itu lebih lama, ia sudah harus berhadapan dengan hambatan baru, yakni terkendala pengiriman. Mau tak mau, peluang menjanjikannya itu ia hentikan.

"Jadi di sana waktu itu ada reseller kami, tapi ternyata barang sampai lama, karena frozen jadi kurang bagus sehingga akhirnya di-hold," ungkap Neura.

Seiring perkembangan, dengan kemampuannya yang melek internet, Bebitang melebarkan sayap memanfaatkan media sosial Instagram. Bebitang juga membuka toko di marketplace, seperti Tokopedia. Tak hanya mengandalkan online, produk turut dipasarkan secara offline di Total Buah.

Selain itu, ke depan, Neura membuka kesempatan terbuka bagi siapa saja yang ingin menjadi reseller Bebitang. Asal bisa mengatur ekspedisi dengan baik.

"Kalau ada yang mau menjadi reseller dan bisa mengatur untuk ekspedisi yang baik, kami mau saja. Pilih pengiriman yang satu hari," tegasnya.

Dampak Pandemi
Sayang, malang tak dapat ditolak. Seperti unit usaha lainnya, Bebitang juga terhempas gelombang pandemi. Pesanan yang semula bisa ratusan porsi, kini akhirnya menjadi nihil alias sama sekali tak ada. Sebab pembatasan sosial dan fisik kini memungkinkan para ibu untuk memasak sendiri di rumah.

Harga bahan pangan yang kerap melonjak, ditambah imbauan untuk jaga jarak, membuat Neura akhirnya memilih untuk meliburkan sementara bisnis pada awal pandemi covid-19 menerpa Tanah Air.

Pada sekitaran Juli atau Agustus 2020, ia nekat kembali membuka layanan katering. Teringat akan prinsip awalnya untuk membantu para ibu memberikan makanan sehat kepada si buah hati.

"Saat itu enggak ada pesanan, cuma kita tetap harus jalan. Karena niat awal kita kan biar bagaimana mau membantu para ibu," kenangnya.

Usahanya pelan-pelan mulai beranjak lagi, walau belum sepenuhnya kembali normal. Neura mengaku tak memperbarui menu, ia lebih memilih untuk fokus meyakinkan para konsumen bahwa Bebitang dapat memberikan layanan sesuai ketentuan keamanan pemerintah.  

"Kita memberi edukasi kepada konsumen kita how to doing this catering. Gimana cara mereka terimanya, kebersihannya kita informasikan seperti apa, pokoknya kita membuat para ibu nyaman dengan apa yang kita lakukan. Jadi membangkitkan kepercayaan saja, sih," paparnya.

Berpedoman pada semangat itu, Neura berhasil mempertahankan belasan pegawai. Bahkan, ia bisa menyerap tenaga kerja dari pegawai korban pemutusan hubungan kerja (PHK).

Omzet yang dikantonginya memang tak lebih tinggi dibanding sebelum pandemi. Jika pada 2011 dan 2012 ia bisa mendulang untung hingga Rp70 juta per bulan, kini omzetnya hanya berkisar Rp40–50 jutaan setiap bulan.

Meski demikian, Neura optimis usahanya akan kembali normal setelah vaksinasi dan banyak wanita karier kembali bekerja di kantor. Segmentasi pasar juga tetap pada niat awal. (Fitriana Monica Sari)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA