Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

WIRAUSAHA

09 April 2021|21:00 WIB

Masih Ada Sinar Jadi Tukang Gambar

Profesi ‘Tukang Gambar’ handmade pada era download dan repost masih punya peluang besar. Banyak orang yang mulai kembali melirik manual illustration, sejak 2017 hingga saat ini
ImageIlustrasi seni melukis. Pixabay

JAKARTA – Meski menarik dan mengasyikan, menjalani profesi sebagai seniman visual ternyata bukanlah hal yang mudah. Bukan soal mengembangkan kemampuan, masalah muncul justru pada sulitnya mempertahankan hak cipta, apalagi royalti.

Saat ini, ketika mengunduh dan mengunggah sesuatu di laman website dan media sosial semudah menjentikkan jari, dalam sekejap, hasil karya seorang seniman tersebar di mana-mana. Bahkan, bukan tak mungkin, justru jadi ladang peruntungan oleh orang yang tak peduli hak intelektual, dan potensi penghasilan si pencipta.

Boleh dibilang, bekerja di Indonesia sebagai pencipta sebuah karya membutuhkan ketabahan tingkat dewa. Sutradara dan sineas, misalnya, mesti melulu berurusan dengan pembajakan. Begitu pula dengan musisi. Sementara, orang-orang yang jago desain visual dan menggambar, mesti berulangkali menyaksikan karyanya ditiru—bahkan dicuri—orang.

Belum lagi, seringkali mereka—desainer grafis dan visual artist—juga harus menghadapi konsumen yang tak paham dan bisa menghargai proses berkesenian atau bidang desain visual

“Masa cuma nggambar gini aja semahal itu?” jadi kalimat yang seringkali terlontar.

Jujur saja, kebanyakan masyarakat Indonesia, memiliki tingkat apresiasi yang rendah terhadap hasil karya seni seseorang, apa pun jenisnya. Ide kreatif dan proses penciptaan suatu karya, kerap kali diabaikan.

Namun, di balik semua kondisi itu, Metta Ratana (25) justru berhasil mendulang peruntungan dan penghidupan dari bakat melukisnya. Perempuan yang hobi menggambar sejak kecil ini mampu menarik minat banyak konsumen untuk menggunakan bakat dan jasa lukisnya, hingga bisnis ilustrasi kini menjadi pekerjaan utama Metta.

Sejak SD hingga SMP, Metta mengaku beberapa kali mengikuti sejumlah lomba menggambar. Ketika SMA, Metta mulai meluangkan waktu lebih banyak untuk menekuni hobi menggambar. Hasil karyanya, ia pajang di akun sosial media.

“Benar-benar enggak terpikir untuk bisa lanjutin sampai jadi profesi hingga saat ini. Waktu itu pas SMA sebenarnya iseng saja buat cari uang jajan tambahan,” ungkapnya kepada Validnews di Jakarta, Minggu (4/4).

Sejak kecil, ia mengaku tak pernah mendapat pendidikan khusus menggambar, baik formal maupun sekadar les. Ketika kuliah pun, ia dihadapkan pada dua pilihan, yakni memilih jurusan Desain Komunikasi Visual atau Komunikasi Pemasaran di sebuah kampus ternama Jakarta.

Karena alasan biaya kuliah dan operasional jurusan DKV selangit, Metta akhirnya memilih menimba ilmu di jurusan Komunikasi Pemasaran, begitu lulus SMA.

“Karena kondisi dan lain sebagainya, akhirnya pilih komunikasi pemasaran. S1 di Binus, S2 di LSPR (London School Of Public Relations), keduanya komunikasi,” terangnya.

Buka Jasa
Metta bercerita, setelah menekuni dunia gambar lebih serius, ia mengenal watercolour illustration pada 2016 atau saat masa perkuliahannya. Pada akhir masa kuliah, Metta memberanikan diri membuka jasa atau open commission untuk sejumlah project, misalnya ilustrasi atau gambar untuk kado ulang tahun ataupun kado pernikahan.

Namun, hidup tak selalu berjalan mulus. Pada saat mulai menekuni bidang visual, pada saat yang bersamaan pula, Metta dihadapkan pada dua persimpangan karier. Ia harus memilih untuk bekerja formal sebagai karyawan atau terus berkarier secara freelance seperti yang sudah ditekuninya. Ia pun memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan lepasnya dari semasa kuliah itu.

Faktor kecemplung di industri kreatif sekian lama, membuat Metta yakin untuk membentuk Mettamini Gallery, sebuah jasa ilustrasi watercolor untuk berbagai kebutuhan. Pembukaan jasa ini dipermudah dengan kerabat terdekat yang sudah mengenal Metta sebagai ‘Tukang Gambar’ saking seringnya ia menerima pekerjaan lepas menggambar.

“Kalau komunikasi memang aku belajar formal, tapi di lapangan belum banyak pengalaman. Jadi, aku pikir kalau journey di perusahaan itu aku mengulang lagi dari nol. Kalau di industri kreatif ini sudah ada jalannya dan memang dapat kesempatan dan rezeki di sini,” tuturnya.

Jasa Metta menggambar saat ini dipatok tarif terendah sebesar Rp900.000 per ilustrasi dan yang tertinggi Rp5 juta dalam beberapa paket yang ditawarkan pada klien. Sejumlah paket, jelas Metta, turut menyediakan jasa revisi desain.

Ketika memulai Mettamini Gallery, ia menyebutkan seluruh jenis modal yang dikeluarkan jika diuangkan hanya di bawah Rp500.000 saja, tidak mahal. Menurutnya, dalam menjalani bisnis ini, skill, jam terbang, dan waktu pengerjaan sangat berperan dalam keberlangsungan usaha.

“Dulu itu awalnya aku memulai dengan range Rp50.000–80.000 saja. Tapi mungkin karena orang melihat kualitas ilustrasi aku, ya makin hari jadi makin berkembang. Ini perbandingan dengan desain aku sebelum-sebelumnya loh ya, bukan membandingkan dengan yang lain,” jelasnya.

Personal dan Bisnis
Ia menegaskan, awalnya Mettamini Gallery hanya berupa open commission atau membuka jasa untuk personal, wabil khusus buat teman-teman terdekatnya. Sejumlah temannya tersebut, meminta Metta menggambar untuk kado ulang tahun hingga pernikahan.

Namun seiring waktu berjalan, Metta mulai membuka jasanya untuk business project. Mencakup desain logo, maskot, hingga kemasan bagi sejumlah UMKM. Kini, porsi pekerjaan personal project dan business project sudah nyaris seimbang.

“Jadi sekarang ini untuk personal dan yang kedua untuk bisnis, hanya dua itu. Kalau misalkan ada pekerjaan untuk menggarap buku anak, itu enggak aku ambil,” kata Metta.

Dengan sederet rekam jejak dan pengalaman menggarap berbagai project, Mettamini Gallery pun  kini sudah berkolaborasi dengan brand-brand besar, seperti Watsons di bidang kesehatan dan Joyko di sektor perkakas tulis dan lukis yang lebih relate dengan bisnis milik Metta.

Saat ini, Metta menjelaskan bisnisnya masih mengedepankan watercolor illustration, dengan sistem gambar manual. Namun, ia tak memungkiri bahwa ada sejumlah klien yang meminta untuk ilustrasi digital.

“Kalau ilustrasi digital aku langsung kerjain di laptop atau iPad pakai aplikasi Procreate,” ungkap Metta.

Terkait proses pengerjaan, Metta menjelaskan hal itu bukan menjadi masalah utama karena dalam sehari, setidaknya ia dapat merampungkan satu ilustrasi. Namun, ramainya pesanan membuat antrean mengular. Bahkan, waiting list pekerjaan ilustrasi di Mettamini Gallery bisa mencapai 1–2 bulan.

“Jadi kalau misalnya mau order itu dari dua bulan sebelumnya. Ini ngantre karena kan customize semua, lalu aku harus membuat based on request, kita juga harus ngasih klien semacam preview, itu butuh waktu,” kata Metta.

Metta menyebutkan, keakrabaanya dengan watercolor illustration kini makin kental. Umumnya, objek yang digambarnya berupa gambar-gambar semi-kartunis. Namun karena keterbatasan literasi, sejumlah klien tidak mengerti jenis ilustrasinya, dan mereka berpikir gambar hasil karyanya tidak mirip dengan apa yang diharapkan.

“Kadang mungkin mereka (klien) mikir kok enggak mirip, itu mungkin karena mereka belum tahu kalau kita gambar dengan style yang semi kartunis,” tandas Metta.

Hingga saat ini, Metta masih menggambar secara manual dengan kuas dan cat air. Sebab ilustrasi watercolor akan tampak lebih matang jika dikerjakan menggunakan brush, kuas, serta kertas.

Namun meski dengan sistem manual, Metta menjelaskan, proses reproduksi gambar yang ia buat dilakukan secara digital. Memanfaatkan laptop dan iPad yang ia miliki, hasil gambar manual dipindai, kemudian dicetak ulang pada berbagai media.

“Kebanyakan memang gambar manual. Tapi, ada beberapa yang minta ilustrasi digital, ya, bisa juga langsung aku kerjain di laptop atau iPad,” kata Metta.

Dengan bisnis yang ia jalani hingga saat ini, Metta mengakui omzet setiap bulannya ada di kisaran Rp25 juta dan maksimal Rp30 juta. Dikurangi biaya cat dan alat-alat kerja lainnya, jumlah tetap tak sedikit untuk pekerjaan lepas waktu.

Zona Nyaman
Metta mengakui, beberapa kali ia mendapat pesanan yang sulit untuk dikerjakan. Namun, tak ada kata menyerah buatnya. Ia menjadikan hal itu sebagai tantangan untuk meningkatkan potensi dan bakatnya.

Karena pesanan sulit itu pula, klien Metta kerap memberinya kesempatan untuk keluar dari zona nyaman. Menurut Metta, ia mungkin tidak akan menyentuh area yang dinilai sulit jika tak ada permintaan dari klien.

“Karena klien yang minta, ya aku coba dulu walaupun agak susah. Dengan begitu, kita dikasih kesempatan untuk latihan lagi hal-hal yang awalnya enggak mau kita sentuh. Jadi Latihan, keluar dari zona nyaman kita,” pungkasnya.

Selain tantangan mencoba keluar dari zona nyaman, Metta menyebut, momen menjelaskan ke calon pelanggan yang kebingungan ingin membuat apa, juga menjadi tantangan tersendiri. Menurut Metta, harus ada usaha yang matang untuk mengarahkan klien dalam mendetailkan kebutuhannya, hingga paket apa yang harus diambil.

Beberapa kali, kata Metta, sempat ada klien yang ‘salah alamat’. Beberapa orang meminta ia membuat gambar realistis, jauh dari gaya Mettamini Gallery yang hanya bergerak di gambar semi-kartunis.

“Mereka itu menganggap aku bisa melakukan semuanya. Jadi ada semacam momen-momen yang missed aja sih gitu. Tapi enggak banyak,” imbuhnya.

Dengan kesabaran menghadapi berbagai watak klien, Metta tak memungkiri banyak pelanggan yang menjadi teman dekat, tidak sekadar terikat dalam hubungan bisnis. Saling support satu sama lain, saling memberi perhatian ketika ada yang sakit, dan berbagai macam sikap respect lain sudah berulang kali terjadi antara Metta dan pelanggan Mettamini Gallery. Beberapa kali pun Metta dan sejumlah klien saling bertukar hampers ketika hari raya.

“Itu jadi momen yang berbekas buat aku karena ternyata kita dihargai lebih dari sekedar karya kita, kita dihargai as a person,” ujar Metta.

Potensi
Menjalani profesi sebagai ‘Tukang Gambar’ pada era download dan repost, jelas Metta, sebenarnya masih punya peluang besar. Menurutnya, banyak orang yang mulai kembali melirik manual illustration, setidaknya sejak 2017 hingga saat ini.

Beberapa tahun mendatang, Metta meyakini profesi ‘Tukang Gambar’ masih layak buat mereka yang memang hobi mencorat-coret dengan konsep.

“Mungkin nanti pekerjaan bisa diganti sama robot, tapi yang berkaitan sama seni, hasil olah hati dan pikiran itu agak sulit tergantikan,” yakinnya.

Untuk itu, Metta menyarankan agar mereka yang hobi menggambar, tidak ragu untuk terus berkarya. Jika belum ada pesanan, Metta mengimbau agar tetaplah menggambar dan berkarya.

Setelah memiliki karya, mereka yang hobi menggambar semestinya harus mampu mengomunikasikan karyanya ke calon klien. Jika punya karya tapi hanya dipendam, ucapnya, sampai kapanpun orang tidak akan melirik potensi yang dimiliki para tukang gambar.

Presentasi karya, kata Metta, untuk saat ini justru efektif dilakukan secara daring melalui sosial media. Jika ingin mempersentasikan gambar melalui media offline, ia menyarankan mereka yang hobi menggambar dan desain mengikuti berbagai macam pameran.

Online itu bisa di Instagram, Youtube, platform portofolio, atau bisa juga di TikTok yang saat ini lagi booming ya,” tuturnya.

Setelah berkarya dan mempresentasikan melalui berbagai media, Metta menegaskan konsistensi harus terbangun. Menurutnya, hal ini merupakan poin penting ketika setiap orang memilih untuk bekerja di industri kreatif.

“Etos kerja juga penting untuk benar-benar mau serius atau enggak menjadikan karya ini sebagai profesi kita karena industri kreatif ini menjadi tantangan buat kita,” imbuh Metta.

Pasalnya, berkutat di industri seni, kata Metta, berkaitan erat dengan kestabilan emosi ataupun mood dari setiap pelakunya. Setiap pekerjaan seni, lanjutnya, melibatkan perasaan dan ketika sudah menjadi profesi, harus mampu menstabilkan atau menjaga mood. Mereka tidak boleh serta-merta berhenti bekerja dengan alasan tidak ada inspirasi.

Nah, untuk menentukan harga, Metta mengakui setiap ‘Tukang Gambar’ pasti menemui momen dilemanya sendiri-sendiri. Pasalnya, bekerja di industri kreatif, terlebih urusan menggambar, berbeda dengan produksi makanan, minuman, atau barang lainnya.

Ia menyarankan sebelum menyodorkan tarif ke klien, seorang tukang gambar, setidaknya cermat menghitung terlebih dahulu modal barang yang terlihat, seperti kertas, cat dan kuas. Setelah itu, barulah mengukur waktu pengerjaan sesuai UMR setempat, misalnya Rp50.000 per jam. Hitungan itu, lanjut Metta, menjadi modal awal dalam berprofesi sebagai desainer.

Soal harga yang wajar, baik bagi si penggambar maupun bagi klien, Metta bilang, seorang seniman mesti mampu menakar kelayakan nilai jual karyanya sendiri. Hasil olah rasa, olah pikiran, olah hati, hingga olah ide yang berhasil tertuang dalam sebuah karya, lanjut Metta, semestinya bisa dikuantifikasi menjadi nilai jual.

“Kalau wajar untuk kita, misalnya kita jual Rp200.000, itu kita jadi semangat. Sedangkan kalau dihargai Rp20.000 kita cuma capek, berarti jangan pasang harga segitu. Atau misalnya kita jual Rp2 miliar, kita sebagai illustrator harus merasa apakah kita pantas mendapat nilai segitu,” terangnya.

Kemudian, Metta menyarankan agar para seniman membuat daftar harga yang nantinya akan dibagikan ke calon klien. Dengan begitu, kewajaran di mata klien bisa terlihat. Misalnya, 9 dari 10 orang menganggap harga yang kita berikan terlalu mahal, sebaiknya diturunkan agar klien merasa wajar juga.

Metode seperti itulah yang telah diterapkan Metta dari awal memulai Mettamini Gallery. Soal metode lain yang digunakan seniman lain, ia tak menampiknya juga bisa diterapkan. Namun setidaknya, dengan metodenya, Metta sudah membuktikan usahanya terus berjalan dan makin berkembang. (Yoseph Krishna)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA

TERPOPULER