Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

WIRAUSAHA

26 Maret 2021|21:00 WIB

Lajunya Bisnis Kejutan Campervan

Unsur spontanitas dan keasyikan di perjalanan, membuat jenis liburan ini lebih diminati
ImageIlustrasi Campervan. Pixabay

JAKARTA – Berbulan-bulan menghabiskan waktu di rumah dengan keterbatasan aktivitas fisik akibat pandemi menguras psikologis manusia. Liburan menjadi aktivitas yang paling ditunggu-tunggu oleh tiap orang yang mulai jenuh dengan kondisi ini.

Hal inilah yang disampaikan pemilik Everydayholiday.Id, Limbert Hutahean, yang bisnis campervan-nya laris manis diserbu peminat. Berbanding terbalik dengan industri perhotelan konvensional, jumlah pesanan jenis berlibur ini justru selalu penuh selama pandemi.

Awalnya, Lim sapaan karibnya, memulai usaha ini setelah mencicipi sendiri keseruan bepergian mengendarai mobil model gambot itu bersama keluarganya ketika mengunjungi Selandia Baru. Awalnya, mereka menghadiri sebuah agenda di Australia medio 2018. Dari Benua Kanguru, mereka kemudian menyeberan ke Selandia. Perjalanan ini dinilainya asyik.

Sekembalinya ke Indonesia, ia memutuskan mulai membelokkan bisnisnya dari rental kendaraan pariwisata—yang sudah digelutinya sejak 2013—menjadi penyewaan campervan atau kendaraan yang bisa dipakai menginap sambil bepergian.

Bak gayung bersambut, proses pengalihan core bisnis ini disambut oleh tawaran Nirina Zubir yang berniat melakukan kegiatan esktrem, bersepeda selama 12 hari dari Jakarta–Bali. Perjalanan dilakukan sambil membawa anaknya di mobil pada 2019.

"Saat itu, Nirina nelpon saya awal puasa dan berencana sepedaan dua hari setelah lebaran. Setelah negosiasi, saya punya waktu sekitar tiga minggu. Jadi, modif mobil Toyota Hiace yang harusnya sekitar dua bulan dikebut jadi dua minggu dan seminggu untuk perencanaannya," ceritanya kepada Validnews, Rabu (24/3).

Dalam waktu sesingkat itu, Limbert bersama timnya berhasil menyulap mobil dengan kapasitas 12 orang itu untuk muat diisi kasur tidur yang bisa menjadi tempat duduk, rak penyimpanan barang, kompor portable, dudukan tenda dan perkakas lain.

Beberapa minggu setelahnya, Limbert secara resmi membuka jasa perjalanannya ke khalayak.

Perlahan namun pasti, ia terus menambah armada campervannya hingga saat ini dengan jenis mobil Hyundai Starex dan Isuzu Elf.

Pertumbuhan penjualan campervan pada 2019 cukup baik lantaran Lim menyesuaikan armadanya dengan kebutuhan konsumen lokal. Aspek ini tak luput dari keseriusannya menjajal sendiri kualitas campervan di luar negeri. Secara khusus, ada beberapa hal yang ia perhatikan dalam membangun armadanya di Indonesia.

Dia mengamati dimensi mobil yang lebih kecil dan cukup gesit, lebih cocok untuk dipakai di Tanah Air. Di luar negeri, banyak campervan berbodi terlampau bongsor. Jadi, jalannya lamban dan lebih susah dikendalikan. Begitu juga dengan fasilitas toilet dan dapur yang turut disesuaikan.

"Toilet dalam dihilangkan karena di sini kita bisa ke kafe, resto, minimarket dan lainnya. Dapur juga begitu, dipindahkan keluar karena masakan kita semerbak aromanya kemana-mana dan dilengkapi pantry yang bisa untuk masak dan cuci," jelasnya.

Layanan campervan ini dibandrol mulai dari Rp1,95–2,65 juta untuk sewa dua hari dan satu malam pada akhir pekan. Sementara, untuk sewa tiga hari dan satu malam pada akhir pekan layanannya dijual Rp2,65–3,45 juta. Namun, konsumen yang memesan pada hari kerja akan ada mendapat potongan sebesar 30%.

Semua biaya itu sudah termasuk sewa mobil, supir, BBM, dan tiket kemping dengan pilihan lokasi sekitar Bandung Utara dan Selatan. Namun, ia juga bisa mengakomodasi konsumen yang hendak pergi ke luar kota dengan penyesuaian harga.

Secara spesifik, Lim memang menyasar konsumen dari kalangan keluarga dengan dua anak. Ia juga mengklaim layanan mobilnya mampu menampung sekitar 2–6 orang dewasa ditambah dua anak dengan umur di bawah tujuh tahun, tergantung jenis mobil yang dipilih.

"Harga segitu, jika ditarik ke harga sewa kendaraan travel biasa maka akan bilang murah. Malah, kalau kata orang travel jumlah segitu pasti murah banget harganya," kelakarnya.

Anomali Pandemi
Selama pandemi 2020, Lim menilai, bisnisnya moncer. Kondisi ini tentu berbanding terbalik dengan industri pariwisata lain yang malah babak belur dihantam pandemi. Secara tidak langsung, ia juga melihat perubahan arah liburan dan pariwisata orang-orang yang sudah mulai sumpek dengan nuansa WFH yang monoton.

Sejak Maret–Juni 2020, armada campervannya sempat menepi untuk beberapa saat di parkiran. Namun masa-masa sepi pelanggan itu hanya berlangsung sebentar saja.

"Pandemi membawa keuntungan tersendiri untuk bisnis saya karena sekarang orang cenderung mencari jenis wisata baru," katanya.

Campervan memang menyuguhkan pilihan lain dari berlibur. Berbeda dengan model liburan di hotel alias staycation yang sudah bisa dan sering dibayangkan oleh konsumen, ada unsur spontanitas dan kemungkinan kejutan dalam perjalanan menggunakan kendaraan besar ini. Peluang ini juga nyatanya diendus oleh beberapa startup liburan yang mulai menyediakan menu khusus campervan, selain villa-villa unik yang terus dilirik.

Lim mengakui, Juli 2020 menjadi titik balik peningkatan layanan bisnisnya. Sejak itu, layanannya selalu disesaki peminat yang kebanyakan memilih waktu libur pada akhir pekan. Perhitungan kasarnya, sepanjang tahun lalu bisnisnya bisa berkembang hingga 40–50%. Di tengah situasi yang tidak stabil, disebabkan oleh kebijakan pemerintah, dinamika pandemi, serta cuaca di dalam negeri, perkembangan itu amatlah baik.

Bahkan, jumlah penyewa sejak tahun lalu hingga awal Januari 2021 membludak. Ketiga armadanya full booked dengan pertumbuhan hingga 100%. Dari angka ini, timnya bisa mengantongi omzet kasar hingga puluhan juta setiap bulan.

Anomali ini juga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia—secara umum—tak betah berlama-lama diam di rumah. Membuktikan pula bahwa pandemi berdampak secara psikologis dan mengubah minat konsumsi pada penduduk dalam waktu singkat.

Hal ini tercermin dari algoritma pencarian internet. Goggle trends 2020 melacak, puncak pencarian keywords campervan terjadi pada 17-23 Mei 2020—tak lama sesudah pandemi melanda dan PSBB diberlakukan—dan 27 Desember 2020-2 Januari 2021, boleh dibilang ketika itu masyarakat sudah mulai jenuh dengan pembatasan sosial.

Pencarian tertinggi campervan bermuara di Banten, Bali, Aceh, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Dengan kaitan topik teratas yakni proyek desain interior campervan, desain campervan, dan berbagai jenis mobil yang disinyalir cocok menjadi campervan.

"Andai tidak ada pandemi pun, saya percaya bisnis ini akan terus berkembang tapi harus disertai (kemampuan) digital marketing yang baik," katanya.

Ke depan, Limbert optimistis bisnis campervan akan terus berkembang karena segmentasi konsumen yang mencari liburan baru terbilang besar. Validnews sendiri mencatat, pada Juni 2019, jenis wisatawan embara Indonesia didominasi oleh kalangan yang mengembara demi melihat pemandangan alam instagramable atau glampacker sebanyak 27 juta orang. Jenis ini disusul kelompok pengembara yang berpergian untuk melupakan kepenatan sejenak (7,7 juta orang) dan kelompok wisatawan yang menetap di satu tempat dan bekerja mengandalkan perangkat digital atau flashpacker (5 juta orang).

Limbert pun berencana untuk segera membangun armada baru untuk Everydayholiday.id, berbasis mobil bertenaga empat roda atau 4X4. Rencananya, armada jenis ini akan khusus membawa konsumen ke tempat eksotis yang belum terjamah oleh banyak pengunjung.

Selain itu, rencana pemerintah yang hendak membuka perjalanan lintas negara di tengah pandemi virus covid-19 atau travel bubble ke negara tetangga menjadi peluang yang cukup baik untuk pertumbuhan bisnis. Pemerintah pusat kini tengah memfinalisasi perjanjian travel bubble dengan beberapa negara, mulai dari Singapura, Malaysia, Uni Emirat Arab, China, Qatar, hingga Belanda.

Pasar Persaingan Masih Terbuka Lebar
Kendati bisnis campervan terus bertumbuh, Limbert dan pengusaha sejenis tetap menunggu pemain baru untuk terjun ke bisnis ini. Pasalnya, keberadaan pesaing baru bakal membuat ekosistem bisnis makin sehat.

Sekalipun ada, pesaing bisnisnya pun masih belum jelas dan terhitung sedikit. Ia mencontohkan, jika disebut campervan bersaing dengan hotel pun kenyataan di lapangan tak terlihat demikian. Malahan, bisnisnya cenderung lebih bersinggungan dengan bumi perkemahan atau camping ground.

Namun demikian, bukannya terjadi persaingan. Pelaku usaha bumi perkemahan malah menyadari bisnis campervan sebagai peluang untuk berkolaborasi dengan menyediakan parkir khusus untuk campervan.

Kabar teranyar, ketika komunitas campervan berkumpul, mereka malah disediakan area parkir yang fungsi awalnya adalah lapangan golf. Padahal jika dihitung secara bisnis, Lim menjabarkan, kondisi ini tidak terlalu menguntungkan pemilik lahan karena konsumen hanya dibebani sewa parkir.

"Sari Ater yang aslinya lapangan golf saja kosong, sekarang menjadi camper park padahal dia punya cottage dan sebagainya. Makanya, kami juga di komunitas kemaren seneng banget bahwa pemain besar akhirnya bisa menangkap ini (peluang bisnis)," ujarnya.

Tak lupa, ia juga membocorkan, peluang bisnis campervan di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur masih cukup bagus dan terbuka lebar. Asalkan, pengelola camping ground bersedia diajak kolaborasi untuk terus meningkatkan fasilitas penunjang campervan. Dua provinsi itu dianugerahi banyak bumi perkemahan yang lebih bagus dibanding kebanyakan tempat di Jawa Barat. Contohnya, bumi perkemahan di wilayah Bandung akan susah menyamai standar camping ground yang sama di kedua daerah tersebut.

"Karena tempat kemping di sini sudah dipenuhi oleh orang di luar Bandung. Otomatis kalau banyak pengunjung, (biaya) pemeliharaannya juga akan ikut mahal," katanya. (Khairul Kahfi)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA