Selamat

Minggu, 16 Mei 2021

WIRAUSAHA

19 April 2021|21:00 WIB

Berseminya Bisnis Wedding Organizer di Tengah Pandemi

Tak ada menyangka pada masa pandemi bisa mendapatkan peluang usaha menjanjikan
ImageIlustrasi Pernikahan. Pixabay/dok

JAKARTA – Beragam jenis usaha harus gulung tikar pada masa pandemi. Utamanya bisnis yang berkaitan dengan kegiatan yang mengumpulkan banyak orang di satu lokasi. Usaha jenis itu, salah satunya adalah penyelenggara acara atau event organizer (EO) dan penyelenggara pernikahan atau wedding organizer (WO). Keduanya mati suri diterpa pandemi.

Namun, seiring berbagai penyesuaian dan konsep kelaziman baru diterapkan, keduanya menunjukkan nasib berbeda kini. Bila bisnis EO masih belum terlihat menyelenggarakan acara sejak pandemi mulai menginfeksi Indonesia, bisnis WO punya kisah lain. Sebagian bisnis WO perlahan pulih setelah menyesuaikan diri pada aturan yang berlaku.

Salah satunya dialami ArtProduction, WO dari Provinsi Lampung yang mengaku justru mendapat peningkatan pesanan dan profit setelah pandemi terjadi di Indonesia.

Pendiri ArtProduction Nurul Utami mengatakan, usaha WO-nya kembali mendapatkan klien sejak penyelenggaraan pernikahan kembali diperbolehkan dengan protokol kesehatan yang ketat. Bahkan, ArtProduction sempat beberapa kali menangani tiga acara pernikahan sekaligus dalam satu hari. Padahal sebelum pandemi, WO ini rata-rata hanya menangani empat klien dalam sebulan.

“Justru pandemi ini, orang lebih sadar untuk menggunakan jasa WO, demi acara pernikahan yang aman. Karena segala macam sistematika pembuatan izin dan lain-lain itu lebih rumit sekarang,” ujarnya kepada Validnews, Senin (19/4).  

Selain mempermudah calon mempelai dalam urusan perizinan, WO juga dipercaya karena dapat memberikan saran, arahan, dan bantuan mengeksekusi penyelenggaraan pernikahan. Tujuan utama penggunaan jasa ini adalah menciptakan momen menikah yang indah untuk diingat, namun tetap meminimalkan penularan covid-19 dengan menaati protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

“Kalau mereka tangani sendiri, biasanya lebih awam pada informasi regulasi dan situasi pandemi terkini,” imbuh Nurul.

Bertambahnya jumlah klien yang harus ditangani, otomatis ikut menambah pundi-pundi rupiah yang masuk ke kas usahanya. Hal ini masih berlangsung hingga sekarang, meski penyelenggaraan resepsi pernikahan masih dilarang di Lampung sejak akhir Januari 2021. Jadi acara yang bisa digelar hanya sebatas akad nikah, namun yang tetap terkonsep dan bisa dilaksanakan di gedung pertemuan.

Nurul mengaku, profit bisnisnya meningkat hingga 10 kali lipat dari biasanya sekitar Rp4 juta per bulan menjadi Rp40 juta per bulan. Jumlah kru yang terlibat dalam WO ini juga bertambah menjadi 21 orang dari awalnya hanya 6 orang. Pelaksanaan protokol kesehatan membutuhkan tambahan tenaga untuk memastikan pelaksanaannya.

Tanpa Modal Uang
Bisnis wedding organizer ini, Nurul selami sejak tahun 2019. Berawal dari permintaan seorang teman yang ingin acara pernikahannya ditangani oleh perempuan berusia 25 tahun tersebut.

Meski belum pernah menangani penyelenggaraan pernikahan sebelumnya, Nurul berani menyambut permintaan temannya dengan mengerahkan koneksi yang ia punya. Kebetulan dia juga kerap menjadi pengisi acara di beberapa acara pernikahan, sebagai MC maupun penyanyi. Ditambah lagi, rekan-rekan timnya juga kerap menjadi pengisi acara sebagai penari di banyak pernikahan sejak masih kuliah. Mayoritas kru ArtProduction merupakan orang-orang yang sudah paham dengan alur penyelenggaraan acara pernikahan.

“Waktu itu banyak tertolong oleh vendor yang saya kenal karena mereka lebih berpengalaman. Tanya-tanya juga ke teman yang sudah bekerja di WO,” urainya.

Tak disangka, pengalaman pertama menyelenggarakan pesta pernikahan pada awal 2019 tersebut, sukses. Bahkan membuat Nurul langsung mendapat klien baru lagi. Dengan skala acara yang besar, yakni untuk 1.000 undangan atau sekitar 2.000 tamu.  

Selain terbantu koneksi, ia mengaku pekerjaan tersebut ternyata juga terbantu oleh ilmu yang dipelajari saat mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Pasalnya, lulusan Seni Pertunjukan Universitas Lampung tersebut telah terbiasa menyelenggarakan enam konser tari dalam satu semester. Pengalaman ini ia jalani bersama mahasiswa lain selama 4 tahun kuliah.

Hal itu pula yang menjadi dasar penamaan ArtProduction, karena yang bekerja di dalamnya merupakan lulusan jurusan kesenian. Urusan detail dan kreatifitas, bukan barang baru bagi mereka.

Uniknya, pada saat memulai bisnis pada usia 23 tahun, ia mengaku tidak mengeluarkan modal uang sama sekali. “Modalnya Rp0 karena di wedding kan klien bayar jasa di depan, jadi tidak ada risiko tunggakan ke vendor juga. Beda dengan EO,” akunya.

Dari keuntungan acara pernikahan yang pertama dan kedua, dia mulai membeli barang keperluan WO secara bertahap. Mulai dari handy talkie (HT), seragam tim, tanda pengenal kru, hingga saat ini bisa membangun kantor sendiri untuk ArtProduction. Serta alat pendukung untuk protokol kesehatan, seperti thermo gun, masker, dan hand sanitizer.

Bisnis Dari SMA
Bakat menyelenggarakan acara sebenarnya sudah diasah sejak di bangku SMA. Acara pertama yang ditangani adalah meet & greet Coboy Junior pada 2012 saat ia masih duduk di bangku kelas 1 SMA.

“Waktu itu gambling banget, awalnya nekat langsung ngadain event mendatangkan artis dengan sistem tiket harga Rp400 ribu dan sold out. Sampai malamnya kita adain acara lagi untuk dinner di restoran dengan artisnya, sold out juga itu tiket kami jual seharga Rp750 ribu,” paparnya.

Kesuksesan dari percobaan pertama itu turut terbantu ketenaran artis yang didatangkan. Hal ini membuat tiket dapat terjual habis dan semua kebutuhan penyelenggaraan dapat terbayar lunas.

Selanjutnya, ia juga pernah memimpin penyelenggaraan Lampung Ethnic Concert yang mampu menjual 3.000 tiket untuk 120 penampil. Kemudian pernah menjadi bagian dari tim EO Cagub Lampung untuk menyelenggarakan kampanye menggelar acara seni pertunjukan rakyat di lima lokasi dengan target mendatangkan 10.000 audiens per lokasi. Pengalaman sebagai satu-satunya perempuan di perhelatan itu membuatnya lebih yakin memilih ‘jalur’ WO.  Perempuan, menurutnya lebih paham detail.

Dari segudang pengalaman menyelenggarakan acara, ia mengaku penanganan acara pernikahan lebih sederhana daripada acara lain. Hanya saja harus mendetail karena menurutnya menciptakan memorable moment bagi pengantin merupakan tugas paling penting.

Kiat Membangun WO
Kesadaran perluanya bisnis yang sinambung, mendasari keinginan menciptakan lingkungan kerja seperti rumah. Nurul justru suka berbagi pengetahuan kepada awaknya.

Hasilnya, beberapa kru ArtProduction sudah memiliki bisnis sendiri seperti dekorasi, butik pakaian pengantin, hingga penyewaan mobil pengantin.

Ia meyakini, timnya merupakan aset terbesar yang harus dikelola sedemikian rupa, bukan dengan uang banyak tetapi dengan nasihat yang membangun dan perkembangan kemampuan.

“Pendekatan kekeluargaan itu sudah paling benar deh sebagai pemimpin,” katanya.

Apakah dia khawatir bahwa rekan kerjanya justru akan jadi kompetitor kelak? Justru Nurul mengaku tidak punya perasaan itu. Dia yakin rekannya bisa menjadi mitra, vendor beragam kebutuhan pernikahan yang dihelatnya. Dia yakin pula, di negeri yang mayoritas penduduk beragama Islam, kegiatan menikah di Indonesia dipastikan tidak akan sepi peminat.

“Prinsip saya, bisnis itu itu harus bisa membantu banyak orang karena ArtProduction juga dimulai untuk niat bantu teman. Penting juga untuk kumpulin tim yang punya visi sama dan solid,” pungkasnya. (Zsazya Senorita)

Login atau Register untuk komentar.

ARTIKEL LAINNYA