c

Selamat

Senin, 27 Mei 2024

EKONOMI

15 Oktober 2018

11:00 WIB

Alibaba Bangun Sekolah Pengusaha Berbasis Teknologi di Indonesia

Khusus untuk Indonesia, Jack Ma menargetkan setiap tahun dapat mencetak 1.000 pemimpin teknologi di Indonesia dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan

Editor: Agung Muhammad Fatwa

Alibaba Bangun Sekolah Pengusaha Berbasis Teknologi di Indonesia
Alibaba Bangun Sekolah Pengusaha Berbasis Teknologi di Indonesia
Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim (kiri) bersama Pendiri Alibaba Jack Ma (kanan) menjadi pembicara di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10). ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/M Agung Rajasa

JAKARTAPerusahaan e-commerce terbesar di China Alibaba, berencana membangun sekolah pengusaha berbasis teknologi di Indonesia. Sedianya, sekolah tersebut akan diberi nama Jack Ma Institute of Entrepreneurs.

"Tentunya mereka sudah punya model sendiri dan diharapkan menjadi prototype untuk menciptakan SDM kita lebih berkualitas," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (15/10).

Airlangga menyampaikan hal itu usai ikut pertemuan antara Komite Pengarah Pelaksanaan Peta Jalan Sistem E-dagang dengan pendiri Alibaba Group Jack Ma di Nusa Dua, Bali. Upaya ini dinilai bakal turut berkontribusi dalam menumbuhkan wirausaha dan SDM terampil melalui peran pendidikan sesuai kebutuhan di era ekonomi digital.

Saat ini, Alibaba sudah menerima beberapa pejabat Indonesia yang ikut pelatihan mengenai perkembangan teknologi digital di China. Para peserta ini melihat langsung fasilitas di sana. Selanjutnya, akan disusul dengan pelatihan untuk para pemimpin teknologi.

"Kemudian, Pemerintah Indonesia akan menyelenggarakan training lanjutannya," terang Airlangga.

Mengenai materi yang akan diberikan dalam pelatihan di Jack Ma Institute of Entrepreneurs, menurut Menperin, masih digodok bersama dan nanti difinalkan oleh Jack Ma. Beberapa materi yang menjadi fokus perhatian di antaranya terkait tentang pengelolaan komputasi awan (cloud computing), teknologi keuangan (termasuk blockchain), dan infrastruktur internet.

"Sedangkan, pemerintah akan menyiapkan regulasinya, seperti mengenai fintech. Tetapi untuk yang lain, Jack Ma hadir sebagai advisor pemerintah. Selain itu, kami juga sudah menyiapkan seandainya untuk mendorong sistem bantuan sosial melalui fintech," paparnya.

Airlangga menegaskan, langkah kolaborasi dalam membangun kualitas SDM dan penerapan teknologi digital ini sesuai dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0. "Di dalam roadmap, kita akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 1-2n% serta potensi penambahan investasi sebesar US$200 miliar di tahun 2030," ungkapnya.

Lebih Penting
Jack Ma sebelumnya mengatakan ingin menggunakan sisa hidupnya untuk mengajar, setelah mengumumkan pengunduran diri dari posisi chairman executive perusahaan e-commerce tersebut. Sebelum memulai Alibaba pada 1999, Ma pernah bekerja sebagai guru bahasa Inggris di China selama beberapa tahun.

"(Pendidikan) adalah sesuatu yang bagus saya lakukan untuk sisa hidup saya," kata Ma dalam sebuah sesi diskusi di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Nusa Dua, Jumat.

Ma, yang menolak disebut pensiun, dan memilih istilah merotasi pekerjaan, menilai pendidikan lebih penting daripada teknologi yang menjadi inti dari bisnis Alibaba yang telah digawanginya selama 19 tahun. Dalam 30 tahun ke depan, menurutnya manusia akan berhadapan dengan dampak buruk teknologi dan automasi yang mengancam hilangnya lapangan kerja.

Mesin, kata Ma, mampu menggantikan pekerjaan manusia dengan sama baiknya bahkan lebih cepat. Karenanya, kata dia, anak-anak perlu diajari untuk jeli melihat peluang dan melakukan inovasi-inovasi yang tidak dapat dilakukan mesin.

Untuk itu, Jack Ma mengaku akan lebih fokus pada pendidikan untuk kewirausahaan yang dinilainya adalah motor pertumbuhan ekonomi. Agustus lalu, pria yang memiliki nama asli Ma Yun itu meluncurkan Netpreneur Prize untuk mendukung pemberdayaan wirausaha Afrika.

Hadiah senilai US$10 juta akan diberikan kepada 100 pengusaha Afrika selama 10 tahun ke depan, yang berfokus pada inovasi, pemberdayaan ekonomi perempuan, serta usaha kecil. Setahun sebelumnya, Alibaba Business School bekerja sama dengan Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) juga mengumumkan eFounders Fellowship Initiative, sebuah program untuk melatih 1.000 pengusaha dari negara berkembang, 200 orang diantaranya berasal dari Afrika.

Program tersebut memfasilitasi para pengusaha untuk mempelajari bisnis dan inovasi di kantor pusat Alibaba di Hangzhou, China. Kedua inisiatif ini diharapkan dapat membangun ekonomi yang lebih inklusif di Afrika, juga membentuk prospek masa depan masyarakat benua tersebut.

Menurut Ma, orang-orang muda Afrika memiliki semangat potensi kewirausahaan yang besar untuk bisa dikembangkan. "Saya tidak pernah mengajari seseorang menjadi sukses, tetapi akan berbagi tentang kesalahan-kesalahan yang saya buat. Dari kesalahan itu, kita bisa mengambil pelajaran dan membuat kemajuan," kata pebisnis berusia 54 tahun itu.

Seribu Pemimpin
Khusus untuk Indonesia, Jack Ma menargetkan setiap tahun dapat mencetak seribu pemimpin teknologi di Indonesia dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan.

"Kami ingin melatih seribu pemimpin teknologi tiap tahun, dalam kurun waktu sepuluh tahun, khususnya melalui pelatihan bagi 300 pengembang dan insinyur tentang bagaimana mengelola komputasi awan," kata Ma dalam konferensi pers di Nusa Dua, Bali, Sabtu.

Tawaran tersebut disampaikan Ma dalam pertemuan dengan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF-WB 2018 di Nusa Dua, Bali. Ma mengatakan pelatihan tersebut akan dilakukan melalui Institut Wirausahawan Jack Ma yang saat ini pendiriannya masih dalam tahap perencanaan.

"Kami belum memiliki rencana yang spesifik, yang kami diskusikan masih sebatas, misalnya, dalam tiga tahun ke depan ayo kita siapkan dulu pelatihnya, latih dulu beberapa orang agar kita tahu apa yang perlu diperbaiki dan bagaimana memperbaikinya, setelah itu kami baru bisa membuat proposal yang konkret," bebernya.

Salah satu orang terkaya di dunia itu juga menegaskan dirinya tidak datang untuk menguasai pasar daring di Indonesia, namun sebagai penasihat Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan dan mengembangkan keterampilan wirausahawan lokal dalam e-commerce.

"Saya tidak datang ke sini sebagai CEO Alibaba, tetapi sebagai penasihat yang memenuhi tugasnya, yang tentu baik dan buruknya hasil kerja saya tergantung pada seberapa jauh e-commerce dan internet infrastruktur di Indonesia menjadi lebih baik," kata Ma.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pemerintah Indonesia, pihak swasta Indonesia dan Jack Ma, saat ini sedang merampungkan desain pengembangan SDM di ekonomi digital.

"Kita perlu pengembangan SDM untuk itu. Bahkan kami sedang siapkan. Alibaba juga siapkan porposal, dari kami siapkan tim untuk diskusi lebih detail model kerja sama dan pengembangannya,” tutur Darmin.

Diakuinya, modal dan kapasitas SDM menjadi kunci menghadapi era ekonomi digital. Indonesia juga sedang mengembangkan industri 4.0 yang bertumpu pada perkembangan teknologi yang mengharuskan mempersiapkan sumber daya ekonomi digital yang andal.

Selain pengembangan SDM, Indonesia melalui kerja sama dengan Jack Ma juga akan berpartisipasi dalam acara Festival Belanja terbesar di China yakni Double Eleven pada 11 November 2018. Pemerintah, kata Darmin, saat ini sedang menyiapkan beberapa produk yang akan ikut dipasarkan di Double Eleven itu.

Pada kesempatan yang sama, Jack Ma mengatakan dalam rapat kedua dengan komite pelaksana dari Indonesia, dirinya menekankan untuk bantuan pengembangan SDM. Ia menekankan, Ekonomi digital yang sedang berkembang pesat di Indonesia, seperti layanan finansial berbasis teknologi (Fintech), perbelanjaan daring (e-commerce), dan sistem pembayaran harus didukung kapasitas SDM yang unggul.

"Saya pikir masa depan Indonesia akan sangat bergantung dari pendidikan, pelatihan dan bagaimana kita menyiapkan anak muda di Indonesia untuk tidak melewatkan kesempatan dalam ekonomi digital," kata Jack Ma. (Faisal Rachman) 


KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentarLoginatauDaftar