c

Selamat

Kamis, 30 Mei 2024

CATATAN VALID

22 Juni 2021

17:18 WIB

Hikayat Ondel-Ondel

Banyak versi sejarah ondel-ondel Betawi. Sebelum menjadi salah satu pertunjukan hiburan rakyat seperti sekarang, digunakan untuk mengusir roh jahat.

Penulis: Ratna Pratiwi

Editor: Faisal Rachman

Hikayat Ondel-Ondel
Hikayat Ondel-Ondel
Sepasang Ondel - ondel Betawi. dok. petabudaya.belajar.kemdikbud.go.id

Bagi Anda yang tinggal di daerah Jakarta dan sekitarnya, pasti sudah tidak asing dengan boneka raksasa yang satu ini. Dengan bentuk menyerupai manusia dan tinggi sekitar dua setengah meter, tentu sulit untuk mengabaikan kemunculannya. Apalagi kerap disertai dengan musik yang mengalun cukup keras

Menjelang perayaan Ulang Tahun Kota Jakarta, biasanya Anda akan semakin sering menemukan ornamen berbentuk ondel-ondel di setiap sudut. Mengingat, boneka yang berasal dari tanah Betawi ini telah sekian lama menjadi ikon Kota Jakarta dan hampir tak pernah absen dalam acara besar Kota Jakarta.

Sejarah Ondel-ondel Betawi

Menyoal sejak kapan kemunculan ondel-ondel, tak ada yang tahu pasti. Namun, konon ondel-ondel telah ada jauh sebelum Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) alias Persekutuan Dagang Hindia Timur masuk ke Nusantara. Seorang pedagang asal Inggris, W. Scot, pun mencatat dalam bukunya bahwa jenis boneka seperti ondel-ondel sudah ada pada tahun 1605.

Parade Ondel - ondel di jalan. Sumberfoto: petabudaya.belajar.kemdikbud.go.id/dok 

Baca juga: Pengamen Ondel-ondel Dan Eksploitasi Ikon Budaya Betawi

Banyak versi kisah mengenai asal-usul ondel-ondel. Salah satunya mengatakan, sebenarnya ondel-ondel merupakan tokoh yang dihilangkan dari Sendratari Reog versi Wengker dari Ponorogo. Tokoh tersebut adalah sepasang makhluk halus dengan tubuh raksasa.

Dikisahkan, karena mengganggu perjalanan Singo Barong, keduanya kemudian dikutuk menjadi burung gagak dan burung merak raksasa. Namun, ketika memasuki pemerintahan Batara Katong, tokoh-tokoh yang dianggap tidak terlalu penting pun dihilangkan.

Sementara itu, kesenian daerah lain pun punya nama berbeda-beda untuk tokoh ini. Pada kesenian Jathilan Jawa Tengah, tokoh ondel-ondel dikenal dengan sebutan gendruwon gede. Di Pasundan, dikenal dengan sebutan Badawang, sedangkan di Bali, lebih dikenal dengan nama Barong Landung.

Dikatakan pula bahwa dulunya ondel-ondel memiliki nama “Barongan”, sama seperti Barongan Bali (Barong Landung), Barongan Jawa Tengah (Reog Ponorogo), dan Barongan dari China (Barongsai).

Baca juga: Filosofi Di Balik 8 Ikon Budaya Betawi

Bagaimana akhirnya lebih dikenal sebagai “ondel-ondel”?

Belum ada jawaban pasti mengenai hal ini. Namun, penyebutan “ondel-ondel” semakin marak dikenal sejak Benyamin Sueb memopulerkan tembang Ondel-ondel.

Pada awalnya, ondel-ondel juga berfungsi sebagai penolak bala atau roh jahat yang bergentayangan. Menurut kepercayaan orang Betawi pada masa itu, wabah penyakit akan hilang setelah orang-orang mengarak ondel-ondel keliling kampung.  

Warna merah pada ondel-ondel laki-laki melambangkan semangat dan keberanian, sedangkan warna putih pada ondel-ondel perempuan melambangkan kebaikan dan kesucian. Dahulunya, sebelum proses pembuatan ondel-ondel dimulai, pengrajin akan melakukan ritual dan menyediakan sesajen berupa kemenyan, kembang tujuh rupa, dan bubur sumsum untuk mengundang roh baik ke dalam boneka.

Baca juga: Merawat Ikon Jakarta

Seiring dengan ajaran Islam yang makin menyebar, bergeser pula fungsi ondel-ondel. Ritual-ritual pun dihilangkan. Kemudian, memasuki kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin (1966-1977), ondel-ondel pun dijadikan boneka seni khas Betawi.

Kini, ondel-ondel menjadi salah satu pertunjukkan yang menghibur dalam pesta rakyat, penyambutan tamu kehormatan, hingga arak-arakan pengantin sunat dan acara pernikahan adat Betawi. Wajahnya pun kini tak melulu dibuat seram, bahkan acap kali buat tersenyum ramah seperti yang kita kenal sekarang. 

Referensi:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ondel-ondel. Diambil dari Rumah Belajar: https://petabudaya.belajar.kemdikbud.go.id/Repositorys/ondelondel/ pada 21 Juni 2021. 

 


KOMENTAR

Silahkan login untuk memberikan komentarLoginatauDaftar